Mantan Petinggi Sebut Akuisisi Blok BMG untuk Latih Pertamina Ikuti Lelang Internasional

Mantan Petinggi Sebut Akuisisi Blok BMG untuk Latih Pertamina Ikuti Lelang Internasional
Mantan Dirut PT Pertamina (Persero) Karen Agustiawan mengikuti Sidang Keduanya di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis 7 Februari 2019. Melalui Kuasa Hukumnya Soesilo Aribowo membacakan Eksepsi atas dakwaan tindak pidana korupsi dalam kegiatan investasi yang dilakukan oleh PT Pertamina (Persero) di salah satu blok migas yang bernama Blok Basker Manta Gummy (BMG) di Australia pada tahun 2009. Di dalam Nota Keberatan, Tim Kuasa Hukumnya menyampaikan 7(tujuh) pokok alasan diantaranya Surat Dakwaan tidak cermat, ROC yang dianggap telah menerima keuntungan atas akuisisi Blok BMG Tahun 2009 tidak jelas status hukumnya, Uraian terkait unsur kerugian keuangan negara tidak jelas dan tidak lengkap, Surat Dakwaan tidak menguraikan unsur “niat jahat” atau mens rea dari Terdakwa, sehingga Dakwaan Penuntut Umum menjadi tidak lengkap, Uraian terkait unsur kerugian keuangan negara tidak jelas dan tidak lengkap, Surat Dakwaan tidak cermat dalam menggunakan ketentuan hukum yang dijadikan dasar oleh Penuntut Umum pada Dakwaan Karen, Surat Dakwaan tidak cermat dan tidak lengkap dalam menerapkan Pasal 18Ayat (1) Huruf B Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi terkait dengan pidana tambahan berupa uang pengganti, Surat Dakwaan tidak jelas, Penuntut Umum tidak dapat merumuskandengantepat peranan Terdakwa sebagai pleger atau medepleger atau doenpleger. ( Foto: BeritaSatu Photo / Emral Firdiansyah )
Fana Suparman / WM Jumat, 12 April 2019 | 11:10 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com - Mantan Dewan Komisaris PT Pertamina Umar Said mengakui saat itu mendukung langkah mantan Direktur Utama PT Pertamina Karen Galaila Agustiawan untuk mengakuisisi Blok Basker Manta Gummy (BMG) Australia pada 2009. Umar Said menjelaskan, akuisi tersebut bertujuan untuk melatih Pertamina mengikuti lelang pada tingkat internasional.

Hal ini dikatakan Umar Saut saat bersaksi dalam sidang perkara dugaan korupsi participating interest (PI) blok Basker Manta Gummy Australia dengan terdakwa Karen Agustiawan, di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (14/3).

"Maksud membeli ini mulanya untuk melatih, dalam perhatian kami untuk melatih ikut lelang internasional. Karena Pertamina belum pernah ikut lelang internasional," kata Umar dalam kesaksiannya di persidangan.

Umar menuturkan, akuisisi Blok BMG pada 2009 silam melalui persetujuan Dewan Komisaris. Hal ini lantaran dalam AD/ART Pertamina langkah yang ditempuh Dirut harus melalui Dewan Komisaris.

"Begitu memang bunyinya (melalui persetujuan Dewan Komisaris)," kata Umar.

Sementara itu, Humayun Bosha selaku anggota Dewan Komisaris yang juga dihadirkan sebagai saksi menyatakan langkah akuisisi Blok BMG Australia bertujuan meningkatkan cadangan minyak. Namun malah mengalami penurunan.

"Tujuannya menambah cadangan dan produksi minyak," ungkap Bosha.

Setelah proses akuisis Blok BMG Australia pada 2009 terjadi, proses peningkatan cadangan minyak naik setelah lima bulan berjalan. Meski demikian, Bosha tidak mengetahui secara pasti soal kapan Blok BMG Australia itu merugi hingga US$ 30 juta.

"Resminya saya tidak tahu," jelasnya.

Diketahui, Karen yang menjabat Direktur Utama PT Pertamina tahun 2009-2014 didakwa mengabaikan prosedur investasiPertamina dalam PI atas blok Basker Manta Gummy (BMG) Australia tahun 2009 sehingga merugikan keuangan negara sebesar Rp 568,066 miliar karena memberikan keuntungan kepada ROC Oil Company (ROC) Limited Australia sebesar nilai tersebut.

Dalam dakwaan disebutkan bahwa Karen telah memutuskan melakukan investasi PI di blok BMG Australia tanpa adanya due dilligence dan analisis risiko yang ditindaklanjuti dengan penandatangan Sale Purchase Agreement (SPA) dengan ROC Oil Company (ROC) Limited Australia tanpa danya persetujuan bagian legal dan Dewan Komisaris PT Pertamina.



Sumber: Suara Pembaruan