Kopi Abah dan AEKI Sinergikan Komunitas Entrepeneur

Kopi Abah dan AEKI Sinergikan Komunitas Entrepeneur
Diskusi bertajuk “Menata Hulu hingga Hilir Perkopian Indonesia Melalui Peningkatan Kesejahteraan Petani Kopi melalui Produktifitas Kebun” yang dihelat Santri Millenial Center (Simac) dan AEKI di Gedung Kopi, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (12/4/2019). ( Foto: istimewa )
Bernadus Wijayaka / BW Sabtu, 13 April 2019 | 00:09 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kopi Abah bersama Asosiasi Eksportir dan Kopi Indonesia (AEKI) menginisiasi Forum Sinergi Komunitas Hulu-hilir Kopi (Fosko Huliko). Fosko Huliko diharapkan bisa menyinergikan seluruh entrepeneur kopi, dari petani, pengolah hingga penjual kopi di Indonesia.

Fosko Huliko terbentuk dalam diskusi bertajuk “Menata Hulu hingga Hilir Perkopian Indonesia melalui Peningkatan Kesejahteraan Petani Kopi melalui Produktivitas Kebun” yang dihelat Santri Millenial Center (Simac) dan AEKI di Gedung Kopi, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (12/4/2019).

Kopi Abah merupakan salah satu produk Simac, sebuah divisi pemberdayaan santri dari Master C 19 Portal KMA.
Ketua Dewan Pembina Master C19 Portal KMA, Gus Syauqi Ma’ruf Amin, dalam diskusi tersebut mengungkapkan, sinergi antarpara petani, pengolah, industri, barista, hingga pedagang kopi bisa menjadi tonggak kemandirian ekonomi Indonesia.

“Dalam pandangan saya entrepeuner itu ya dari petani sampai penjual cafe, semua dari hulu sampai hilir itu entrepeuner. Selama ini petani ini dipandangnya sebagai objek entrepreuner. Padahal petani ini juga entrepenuer,” ujar Gus Syauqi.

Diskusi menarik itu dihadiri oleh berbagai kalangan mulai dari asosiasi petani kopi, barista, pengusaha kedai kopi, hingga pengamat kopi.

Sekretaris AEKI Miftahul Kirom berharap, Fosko Huliko bisa membangun kesepahaman antarentrepeneur kopi, pemerintah, dan industri dalam mengembangkan dunia perkopian di Indonesia.

“Persoalan kopi ini memang perlu ditata mulai dari bagaimana produksi kopi di kebun. Salah satu yang menjadi masalah mengapa tidak banyak petani kopi yang mau menggarap kebunnya karena tingkat produktivitas rendah sehingga hasil panen tidak cukup untuk menutupi kebutuhan keluarga,” ujar Kirom.

Salah satu petani kopi asal lereng Gunung Bromo, Ida menuturkan, ada peningkatan kuantitas dan kualitas produksi kopi secara berkelanjutan. Hal itu jika perawatan kebun dilakukan dengan benar.



Sumber: Suara Pembaruan