5 Pimpinan KPK Absen dari Peringatan 2 Tahun Teror Novel

5 Pimpinan KPK Absen dari Peringatan 2 Tahun Teror Novel
Sudah 2 Tahun, Kasus Novel Baswedan Belum Terungkap ( Foto: Youtube.com/BeritaSatu / BSTV )
Fana Suparman / MPA Jumat, 12 April 2019 | 23:20 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com-Wadah Pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (WP-KPK) bersama koalisi masyarakat sipil antikorupsi dan aktivis antikorupsi menggelar serangkaian kegiatan untuk memperingati dua tahun teror terhadap penyidik senior Lembaga Antikorupsi Novel Baswedan, Kamis (11/4/2019) kemarin.

Sejumlah kegiatan digelar untuk memperingati percobaan pembunuhan terhadap Novel itu sejak sekitar pukul 13.00 WIB hingga malam hari. Sejumlah musisi yang menaruh perhatian pada isu antikorupsi menyumbangkan lagu untuk mendukung Novel dan KPK.

Selain itu, terdapat juga pembacaan deklarasi yang disampaikan WP-KPK, Novel, dan sejumlah aktivis antikorupsi, termasuk tiga mantan Komisioner KPK, yakni Abraham Samad, Bambang Widjojanto dan Busyro Muqoddas. Sementara pada malam hari, budayawan Emha Ainun Najib atau yang akrab disapa Cak Nun bersama presenter Najwa Shihab mengisi kegiatan sarasehan budaya di pelataran Gedung KPK.

Namun, rangkaian peringatan teror terhadap Novel ini tak dihadiri oleh lima pimpinan KPK. Agus Rahardjo Cs tak terlihat di sekitar lokasi kegiatan meski hanya sebentar. Absennya lima pimpinan semakin menguatkan adanya gejolak di tubuh KPK. Hal ini lantaran, beberapa waktu sebelum peringatan teror terhadap Novel, penyidik dan penyelidik KPK melayangkan petisi terhadap pimpinan KPK.

Dalam petisi tersebut, para penyelidik dan penyidik mengeluhkan lima hal, salah satunya adanya hambatan-hambatan dalam mengembangkan sebuah perkara hingga level pejabat yang lebih tinggi atau big fish.
Jubir KPK, Febri Diansyah menjelaskan, WP-KPK telah mengirimkan surat undangan kepada lima pimpinan untuk turut hadir dalam peringatan kemarin. Kelima pimpinan pun berencana untuk hadir. "Dari informasi yang saya dapatkan pemberitahuan sudah dilakukan dan Sebenarnya ada rencana kemarin pimpinan juga akan bergabung," kata Febri di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (12/4/2019).

Namun, kata Febri, kelima pimpinan terpaksa absen dengan berbagai kendala. Terdapat pimpinan yang sedang cuti, atau sedang bertugas di lokasi lain."Kebetulan ada pimpinan yang sedang cuti atau tidak masuk pada hari kemarin. Ada juga yang sedang ditugaskan di tempat lain di Jakarta ada juga yang sedang bertugas di daerah," katanya.

Terkait dengan petisi, Febri mengatakan, lima pimpinan KPK telah menerima petisi tersebut. Rencananya awal pekan depan, kelima pimpinan akan bertemu dengan para pegawai di bidang penindakan tersebut. "Awal minggu depan akan dilakukan pertemuan tersebut nanti saya update lagi," katanya.

Febri mengatakan, pertemuan ini dilakukan untuk menyelesaikan persoalan atau hambatan yang dikeluhkan penyelidik dan penyidik. Ditegaskan, KPK menganut budaya komunikasi yang egaliter. Dengan demikian, pegawai dapat secara langsung memberikan masukan dan pandangan kepada pimpinan KPK.

"Proses dinamika internal itu kami selesaikan dengan sebaik-baiknya dengan mendengar langsung jadi pimpinan mendengar langsung dari pegawai karena memang di KPK ini kan budaya komunikasinya menganut konsep egaliter ya sehingga memungkinkan pegawai di tingkat fungsional atau spesialis itu bicara langsung dengan Pimpinan dan masukkannya didengar dan dipertimbangkan oleh pimpinan," katanya.



Sumber: Suara Pembaruan