Polisi Amankan Dua Pria Diduga Pelaku Mutilasi Guru di Kediri

Polisi Amankan Dua Pria Diduga Pelaku Mutilasi Guru di Kediri
Kapolresta Blitar AKBP Adewira Negara Siregar dan tim melakukan pencarian anggota tubuh Budi Hartanto, seorang guru di Kota Kediri yang menjadi korban mutilasi di Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Jumat 5 April 2019. ( Foto: Antara / Asmaul Chusna )
Aries Sudiono / FMB Sabtu, 13 April 2019 | 16:56 WIB

Kediri, Beritasatu.com - Tim penyelidik Subdit Jatanras Dikreskrimum Polda Jatim yang mem-back-up Satreskrim Polres Kota Kediri, Polres Kediri dan Polres Blitar, gencar memeriksa dua pemuda berinisial AZ (29) warga Desa Sambi, Kecamatan Ringinrejo, Kabupaten Kediri, dan AS (33) warga Desa Mangunan, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar atas dugaan pembunuhan Budi Hartanto (28) guru tenaga honorer di SDN Banjarmelati 2, Kota Kediri.

“Masih didalami, belum ditetapkan sebagai tersangka, karena masih menjalani proses pemeriksaan kejiwaan,” ujar Kapolres Kediri Kota AKBP Anthon Haryadi yang dikonfirmasi, Sabtu (13/4/2019). 

Sementara itu sumber SP di Kediri menyebutkan, bahwa AS yang diduga keras terlibat dalam kasus pembunuhan dan mutilasi Budi, memiliki preferensi seks sesama jenis dan motif pembunuhan terkait cinta terlarang. AS merupakan penjual nasi goreng dan mantan koki di Malaysia. Dia baru saja indekos sekitar sebulan di sebuah ruko di Desa Sambi, Kabupaten Kediri.

Lelaki itu berpenampilan introvert sekembali dari Malaysia dan baru tiga pekan berjualan nasi goreng dengan menyewa ruko di kawasan Sambi, Kabupaten Kediri. Lelaki berpenampilan kalem tersebut baru tinggal di Sambi sekitar dua-tiga pekan terakhir sebelum kemudian menghilang. Warga mendengar, AS dikabarkan ditangkap polisi di tempat persembunyiannya di Jakarta.

Salah satu tetangga di rumah indekos AS, bernama Sujilah yang dikonfirmasi via ponselnya secara terpisah pagi ini mengungkapkan bahwa pemuda itu baru berjualan nasi dan mie goreng ala Malaysia. Namun, pascaditemukannya korban mutilasi, mendadak dia tidak berjualan. “Saya dengar, pemuda itu ditangkap polisi di Jakarta. Jumat kemarin sekitar pukul empat sore (16.00 WIB) banyak polisi berpakaian preman mengawasi rumah indekosan dan ruko tempat AS membuka usahanya,” ujar Sujilah, yang dibenarkan Haryono, tetangganya yang ikut memberikan kesaksian.

Banyak tetangga di rumah indekos AS mengungkapkan pernah mendengar ada teriakan seseorang dari dalam indekosnya menjelang tengah malam awal April baru lalu. Ketika keesokan paginya banyak tetangga menanyakan kepada AS, dia mengaku kejatuhan barang di pundaknya hingga kesakitan. “Ya, mungkin malam itu proses pembunuhannya,” tandas beberapa tetangga Sujilah. Mereka juga menambahkan, AS menutup ruko (warungnya) dan tidak berjualan lagi sejak ditemukannya mayat tanpa kepala di bawah jembatan Jembatan Karanggondang, Desa Karanggondang, Kabupaten Blitar, Rabu (3/4/2019) pagi.

Sementara itu Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Frans Barung Mangera yang dikonfirmasi tadi siang membenarkan, hasil pemeriksaan sementara diduga eksekusi korban guru honorer Budi Hartanto diduga dilakukan di sebuah warung kopi di Kediri. Untuk menghilangkan jejak, mereka membuang mayat korban di perbatasan Kediri-Blitar. Ia membenarkan, tim gabungan sudah mengamankan AS warga Udanawu, Blitar di tempat persembunyiannya di Jakarta. Sedangkan AZ merupakan warga Desa Sambi, Kecamanatan Ringinrejo, Kabupaten Kediri. “Masih didalami,” tambahnya menutup pembicaraan.

Penemuan Kepala Korban
Setelah 10 hari pencarian, bagian kepala korban mutilasi Budi Hartanto berhasil ditemukan tersangkut di ranting bambu Sungai Gladak, Dusun Mojosari, Desa Mojosari, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri, Jumat (12/4). Kepala korban warga Tamanan, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri itu ditemukan polisi dalam bungkusan tas kresek warna hitam yang sebelumnya juga dibungkus kain penuh darah, berjarak sekitar dua kilometer dari pintu dam sungai, berbatasan dengan Dusun Plosokerep, Desa Bleber, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri.

“Pencarian dilakukan tim gabungan Resmob, Inafis dari RS Bhayangkara Kota Kediri, dibantu petugas Polsek Kras, sejak Kamis (11/4) malam. Ditemukan ada bungkusan tas kresek tersangkut ranting bambu yang mencurigakan berjarak dua kilometer dari pintu dam. Setelah diambil dan diperiksa, ternyata benar potongan kepala korban,” ujar Kapolsek Kras, AKP Ridwan Sahara yang dikonfirmasi, Jumat (12/4/2019).

Sesudah itu kepala korban dibawa ke RS Bhayangkara, Kota Kediri untuk dilakukan proses pemeriksaan medis dan memastikan kepala itu adalah Budi Hartanto, yang tubuhnya ditemukan dalam koper besar, di bawah Jembatan Karanggondang, Desa Karanggondang, Kabupaten Blitar, Rabu (3/4/2019) pagi.

Sementara itu Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan mengungkapkan, bahwa Budi Hartanto, diduga menjadi korban pembunuhan disertai mutilasi usai latihan menari di sanggarnya di kawasan GOR Jayabaya, Kota Kediri, Selasa (2/4/2019) malam.

Dari hasil uji forensik tim medis, ada dua dugaan, korban dimutilasi di bagian lehernya sehingga kepalanya terpisah dengan badannya. Pertama, bisa jadi kepala korban dimutilasi setelah dibunuh, sebab ketika dimasukkan ke dalam koper besar, hanya badan korban saja yang masuk dan kepala korban tidak bisa masuk. Dugaan kedua, korban dibunuh dengan tebasan senjata tajam di bagian lehernya sehingga sengaja dibuang terpisah antara badan dengan kepalanya. Terdapat unsur menghilang jejak dari tersangka pelaku. 

Sementara itu usai dipastikan kepala korban adalah korban Budi Hartanto, langsung diserahkan kepada keluarganya untuk dimakamkan di liang lahat tubuh almarhum yang sudah terlebih dahulu dimakamkan di tempat pemakaman umum (TPU) Tamanan, Kota Kediri. Kedua orang tua korban berharap, polisi dapat segera menangkap pelakunya dan kelak diharapkan majelis hakim menghukum dengan seberat-beratnya. 



Sumber: Suara Pembaruan