Kasus Mutilasi di Kediri, Pengakuan Terduga Pelaku Berubah-ubah

Kasus Mutilasi di Kediri, Pengakuan Terduga Pelaku Berubah-ubah
ilustrasi ( Foto: istimewa )
Aries Sudiono / JAS Senin, 15 April 2019 | 10:09 WIB

Surabaya, Beritasatu.com - Dua terduga pelaku pembunuhan dan mutilasi terhadap Budi Hartanto (28) dalam pemeriksaan lanjutan di ruang penyidik Subdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim, mengakui mereka secara bersama-sama menghabisi korban di sebuah warung kopi di Jalan Surya, Kediri.

Terduga pelaku yang menghabisi warga guru tenaga honorer di SDN Banjarmelati, Kediri, Provinsi Jawa Timur (Jatim) tersebut adalah AS (33) warga Desa Mangunan, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar dan AZ alias AJ (29) warga Desa Sambi, Kecamatan Ringinrejo, Kabupaten Kediri.

“Semula AS mengaku dialah yang pertama menghabisi korban Budi Hartanto, warga Tamanan, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, kemudian dibantu rekan akrabnya, AZ alias AJ. AS semula mengaku menghabisi nyawa rekan akrabnya dengan menusuk lehernya dan kemudian dimutilasi,” ujar Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera, Senin (15/4) tadi pagi.

Namun penyelidik menjadi ragu karena AS juga mengaku memutilasi leher korban karena ketika memasukkan tubuh korban yang dalam keadaan bugil ke dalam koper besar, tidak cukup.

Koper berisi tubuh lengkap dengan anggota badannya mereka buang ke Sungai Gladak di bawah jembatan di perbatasan Kediri-Blitar. Sedang kepala korban sengaja dibungkus kain kemudian dimasukkan tas kresek warna hitam juga dibuang di tempat yang sama namun tepat berada di aliran air di sungai yang sama, Sungai Gladak, masuk wilayah Dusun Plosokerep, Desa Bleber, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri. Karena terbawa arus air sungai, bungkusan kepala korban hanyut sejauh dua kilometer dari jembatan.

“Pengakuannya berubah-ubah dan ini yang masih terus didalami,” ujar Frans Barung Mangera sambil membenarkan, ada dugaan kasus pembunuhan terhadap guru tari itu direncanakan cukup rapi. Jika diperlukan, maka penyelidik akan menggunakan alat antikebohongan (lie detector) guna mengetahui yang paling mendekati kebenaran apa yang sesungguhnya terjadi.

Lebih lanjut diungkapkan, selain keduanya bersama-sama menghabisi nyawa dan memutilasi korban, mereka juga mengaku bersama-sama pula membuang koper berisi tubuh korban dan tas plastik berisi kepala korban ke Sungai Gladak.

Membuangnya dengan dilempar dari atas jembatan. Karenanya, koper berisi jasad korban terbuka sehingga kaki korban menyembul, sementara bungkusan kepalanya tercebur air sungai dan terbawa arus hingga jarak sekitar dua kilometer dari dam jembatan.

Seperti dugaan semula, korban dihabisi karena masalah asmara sesama jenis. AS yang memiliki kebiasaan seks menyimpang sepulang dari bekerja sebagai TKI (Tenaga Kerja Indonesia) berprofesi sebagai koki di rumah makan di Malaysia, menjalin hubungan dengan korban yang dikenal sebagai guru tari di sejumlah tempat, termasuk di SDN Banjarmelati.

AS baru tiga hari berjualan nasi goreng dengan menyewa sebuah ruko, dan tinggal sekitar dua pekan di rumah indekos di Desa Sambi, Kecamatan Ringinrejo, Kabupaten Kediri.

Yang dirasa membingungkan tim penyidik untuk didalami kasusnya adalah hubungan akrab antara AS dengan AJ sepertinya terganggu dengan kehadiran korban atau sebaliknya. AS yang semula di Blitar sengaja buka warung nasi dan mi goreng ala Malaysia di Desa Sambi, Kediri agar hubungan asmaranya dengan AZ alias AJ bisa intens.

Hanya saja, dalam pemeriksaan terakhir menyatakan, AS-lah yang menghabisi korban usai mereka bertiga melakukan hubungan seks menyimpang. AS mengakui, ia mulanya melakukan hubungan seks sesama jenis bersama AJ.

“Yang membunuh korban adalah saya, lalu dilanjutkan AJ,” aku AS sebagaimana disampaikan pengakuannya kepada penyidik. Terduga pelaku AS pula yang mengaku menggorok leher korban yang kemudian dilanjutkan AJ hingga kepala korban terpisah.

Usai memutilasi leher korban, AS dan AJ memasukkan mayat Budi yang tanpa busana ke dalam koper. Keduanya juga melakukan aksi ini bersama.

“Untuk memastikan pengakuan mereka, kini masih menjalani pemeriksaan kejiwaan keduanya oleh tim dokter jiwa di RS Bhayangkara, Surabaya,” tandas Frans Barung Mangera menutup keterangannya.



Sumber: Suara Pembaruan