Kasus Suap Air Minum Kempupera, KPK Periksa Direktur Hutama Karya

Kasus Suap Air Minum Kempupera, KPK Periksa Direktur Hutama Karya
Ilustrasi korupsi. ( Foto: ist )
Fana Suparman / WBP Senin, 15 April 2019 | 10:21 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadwalkan memeriksa Direktur PT Hutama Karya, Koentjoro, Senin (15/4/2019). Koentjoro diperiksa sebagai saksi kasus dugaan suap proyek pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kempupera). Keterangan Koentjoro dibutuhkan penyidik untuk melengkapi berkas penyidikan dengan tersangka Anggiar Partunggul Nahot Simaremare selaku Kepala Satuan Kerja (Kasatker) SPAM Strategis sekaligus Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) SPAM Lampung.

"Yang bersangkutan (Koentjoro) diperiksa sebagai saksi untuk tersangka ARE (Anggiar Partunggul Nahot Simaremare)," kata Jubir KPK, Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Senin (15/4).

Tak hanya Koentjoro, dalam mengusut kasus ini, tim penyidik juga menjadwalkan memeriksa lima saksi lainnya untuk melengkapi berkas tersangka Anggiar. Para saksi itu, diantaranya, Irfan selaku PPK proyek IKK Krayan Kaltara; Nurul selaku PPK Sewon, Bantul, Yogyakarta; seorang swasta bernama Febi Festia; seorang pegawai bernama Anton Fatoni; serta Direktur Utama PT Rapi Tirta Treatmindo, Hendrianto Panji. "Kelima saksi diperiksa untuk tersangka ARE," kata Febri Diansyah.

Belum diketahui kaitan Koentjoro atau PT Hutama Karya dalam kasus suap pembangunan SPAM di Kempupera ini. Namun, tim penyidik KPK sebelumnya telah memanggil Direktur Sumber Daya Manusia (SDM) PT Adhi Karya, Agus Karianto pada Selasa (9/4/2019), dan General Manager PT Adhi Karya, Harimawan Anhari pada Kamis (4/4/2019). Namun, hanya Agus Karianto yang memenuhi panggilan dan diperiksa penyidik, sementara Harimawan mangkir. Dalam pemeriksaan terhadap Agus Karianto, tim penyidik mendalami pelaksanaan pekerjaan dan aliran dana untuk tersangka Anggiar.

Diketahui, KPK menetapkan empat pejabat Kempupera dan empat pihak swasta sebagai tersangka kasus ini.



Sumber: Suara Pembaruan