Pendataan Keluarga 2020

BKKBN Targetkan Angka Kelahiran Terus Menurun

BKKBN Targetkan Angka Kelahiran Terus Menurun
Petugas melakukan pendataan saat melayani masyarakat mendapatkan KB gratis di mobil operasional BKKBN di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, belum lama ini. ( Foto: Mohammad Hamzah )
Dina Manafe / EAS Senin, 15 April 2019 | 14:43 WIB

Jakarta,Beritasatu.com - Berbagai kasus kekerasan seksual dan perundungan yang melibatkan anak sebagai korban maupun pelaku, kenakalan remaja, begal, narkoba, perilaku seks bebas, kekerasan dalam rumah tangga, hingga tingginya angka perceraian hanyalah sebagian masalah sosial di masyarakat yang akhir-akhir ini marak terjadi.

Kualitas ketahanan keluarga yang mulai rapuh dinilai turut berkontribusi terhadap fenomena sosial tersebut.

Sejauh ini, upaya pembangunan keluarga sebetulnya sudah dilakukan pemerintah, mulai dari meningkatkan derajat kesehatan yang hasilnya terlihat dari usia harapan hidup penduduk Indonesia makin tinggi. Kemudian dari sisi pendidikan yang terlihat dari angka partisipasi sekolah dasar sampai perguruan tinggi meningkat.

Namun, dari sisi kualitas penduduk lainnya, terutama ketahanan keluarga belum menjadi perhatian.

Sementara Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) sudah melakukan berbagai upaya pembangunan keluarga, namun porsinya mungkin lebih banyak kepada kuantitas, sedangkan sisi kualitas masih kurang.

Untuk itulah, BKKBN pada tahun depan atau 2020 akan melakukan kegiatan pendataan keluarga (PK). PK 2020 sebagai evaluasi dan pengembangan dari PK sebelumnya di 2015. Lewat PK 2020, BKKBN menargetkan angka kelahiran total menurun dari 2,4 (2017) menjadi 2,1 (2025).

Sementara perbedaan PK 2020 nantinya juga mengukur sejauh mana indeks pembangunan keluarga di Indonesia. Ada beberapa pertanyaan yang ditambahkan untuk mendapatkan informasi lengkap mengenai kondisi keluarga, misalnya ketahanan keluarga.

Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi BKKBN, Dwi Lisyawardani, kepada Suara Pembaruan, Senin (15/4/2019) pagi, mengatakan indikator pengukuran dalam PK 2020 mengacu pada delapan fungsi keluarga, seperti fungsi agama, kasih sayang, perlindungan, kesehatan, pendidikan, ekonomi, reproduksi, dan sosial budaya.

"Dari delapan fungsi keluarga ini dikembangkan dalam bentuk pertanyaan dalam pendataan keluarga, kemudian kita bisa menghitung dari kondisi keluarga di Indonesia seperti apa,” kata Lisyawardani kepada Suara Pembaruan di Jakarta.

Lisyawardani mengatakan, dari sisi pengendalian jumlah penduduk bisa dibilang sudah on the track. Ini terlihat dari angka kelahiran total (total fertility rate/TFR) yang stagnan di angka 2,6 akhirnya berhasil diturunkan menjadi 2,4 tahun 2017.

Bahkan sejumlah provinsi dalam posisi menahan TFR agar tidak melebihi angka 2,1. Pemerintah menargetkan penduduk tumbuh seimbang yang ditandai dengan angka TFR 2,1 pada 2025 mendatang.

Menurut Lisyawardani, PK 2020 istimewa karena akan menggali lebih dalam kualitas keluarga Indonesia. Misalnya sejauh mana ketahanan keluarga membentuk karakter anak-anak dan membendung dampak digitalisasi serta komunikasi dua arah orang tua dengan anak, belum banyak diukur.



Sumber: Suara Pembaruan