KPK Perpanjang Masa Penahanan Bowo Sidik

KPK Perpanjang Masa Penahanan Bowo Sidik
Anggota DPR Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso (tengah) dibawa ke mobil tahanan usai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, 28 Maret 2019. ( Foto: ANTARA )
Fana Suparman / YUD Senin, 15 April 2019 | 19:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memperpanjang masa penahanan anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso yang menyandang status tersangka kasus dugaan suap kerja sama pengangkutan pupuk antara PT Pupuk Indonesia Logistik (Pilog) dan PT Humpuss Transportasi Kimia. Selain Bowo, KPK juga memperpanjang masa penahanan dua tersangka kasus ini lainnya yakni, anak buah Bowo yang juga staf PT Inersia, Indung dan Marketing Manager PT Humpuss Transportasi Kimia, Asty Winasti.

"Hari ini dilakukan perpanjangan masa penahanan untuk tiga tersangka kasus dugaan suap bidang pelayaran," kata Jubir KPK, Febri Diansyah melalui pesan singkat, Senin (15/4/2019).

Masa penahanan Bowo dan dua tersangka lainnya diperpanjang selama 40 hari ke depan terhitung sejak 17 April 2019. Dengan demikian, Bowo, Indung dan Asty bakal mendekam di sel tahanan masing-masing setidaknya hingga 26 Mei 2019.

"Perpanjangan penahanan 40 hari dimulai tanggal 17 April 2019 sampai dengan 26 Mei 2019," katanya.

Diberitakan, KPK menetapkan anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso dan anak buahnya, staf PT Inersia bernama Indung sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait distribusi pupuk. Selain Bowo dan Indung, KPK juga menjerat Marketing Manager PT Humpuss Transportasi Kimia, Asty Winasti sebagai tersangka. Para pihak tersebut ditetapkan sebagai tersangka setelah diperiksa intensif usai ditangkap dalam operasi tangkap tangan (OTT) pada Rabu (27/3) hingga Kamis (28/3) dinihari.

Kasus ini bermula saat PT Humpuss Transportasi Kimia berupaya kembali menjalin kerja sama dengan PT Pupuk Indonesia Logistik (Pilog) untuk mendistribusikan pupuk PT Pupuk Indonesia menggunakan kapal-kapal PT Humpuss Transportasi Kimia.

Untuk merealisasikan hal tersebut, PT Humpuss meminta bantuan Bowo Sidik Pangarso. Pada tanggal 26 Februari 2019 dilakukan MoU antara PT Pilog dengan PT Humpuss Transportasi Kimia. Salah satu materi MoU tersebut adalah pengangkutan kapal milik PT Humpuss Transportasi Kimia yang digunakan oleh PT Pupuk Indonesia.

Dengan bantuannya tersebut, Bowo meminta komitmen fee kepada PT Humpuss Transportasi Kimia atas biaya angkut yang diterima sejumlah US$ 2 per metric ton. Selain suap dari PT Humpuss Transportasi Kimia, Bowo juga diduga menerima gratifikasi dari sejumlah pihak lainnya. Saat OTT terhadap Bowo beberapa waktu lalu, KPK menyita sekitar Rp 8 miliar. Uang dalam pecahan Rp 20 ribu dan Rp 50 ribu itu dimasukkan dalam 400 ribu amplop dengan 82 kardus dan dua boks kontainer. Diduga ratusan ribu amplop tersebut disiapkan Bowo untuk serangan fajar pada Pemilu 2019.



Sumber: Suara Pembaruan