LIPI Larang Penangkapan Hiu di Bawah 2 Meter atau 50 Kilogram

LIPI Larang Penangkapan Hiu di Bawah 2 Meter atau 50 Kilogram
Pekerja memotong ratusan sirip hiu yang baru diturunkan dari kapal nelayan di tempat pelelangan ikan Karangsong, Indramayu, Jawa barat, 21 Juni 2016. Meski pemerintah telah melarang penangkapan ikan hiu tetapi penjualan sirip hiu masih tinggi akibat besarnya permintaan ekspor sirip hiu. Antara/Dedhez Anggara
Carlos Roy Fajarta / HA Selasa, 16 April 2019 | 02:21 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengeluarkan dokumen Non-Detriment Finding (NDF) hiu lanjaman (Carcharhinus spp) sebagai acuan ilmiah pengelolaan dan pemanfaatan secara berkelanjutan, Senin (15/4/2019). 

Dalam dokumen itu disebutkan batasan ukuran hiu yang boleh ditangkap yaitu panjang 2 meter.

Mengacu pada Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES), terdapat 12 spesies hiu dalam Apendix II yang tidak segera terancam kepunahan tetapi mungkin terancam punah bila tidak dimasukkan ke dalam daftar perlindungan, dan perdagangannya terus berlanjut.

"Dari data Statistik Perikanan tahun 2015, 60 persen total produksi hiu di Indonesia adalah kelompok hiu lanjaman seluruh famili carcharhinidae dan 54 persen di antaranya merupakan hiu lanjaman jenis carcharhinus falciformis," ujar Kepala Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Dirhamsyah, di Ancol, Jakarta Utara.

LIPI merekomendasikan kuota tangkap hiu lanjaman yang memiliki minimum ukuran panjang tubuh dua meter atau dengan berat minimum 50 kg sebanyak 80.000 ekor untuk tahun ini.

"Dokumen NDF merupakan analisis risiko pemanfaatan hiu yang terdaftar dalam Apendiks II CITES berdasarkan aspek biologi, perikanan, pemanfaatan, dan pengelolaan hiu Lanjaman di tengah upaya penghentian praktik pengambilan sirip hiu dan membuang sisa tubuhnya, baik dalam keadaan hidup atau mati ke laut," tambah Dirhamsyah.



Sumber: Suara Pembaruan