Ada Paus Bisa Bernyanyi di Pontianak

Ada Paus Bisa Bernyanyi di Pontianak
Ketua Yayasan Suar Asa Khatulistiwa Andy Yentriani memperkenalkan Hepi, Si Paus Penyanyi, kepada anak-anak di Jailolo di Halmahera, Maluku Utara, Sabtu, 13 April 2019. ( Foto: Istimewa )
Asni Ovier / AO Selasa, 16 April 2019 | 10:32 WIB

Pontianak, Beritasatu.com - Di Pontianak, Kalimantan Barat, ada paus yang dapat membaca. Bahkan, paus itu dapat berbicara. Hebatnya lagi, bahasa yang digunakan ada dua, yaitu bahasa Inggris dan Indonesia. Paus yang memiliki nama Hepi itu, selain bisa membaca, konon memiliki hobi menyanyi.

Kehebatan Paus ini mulai dikenal antara lain di Kalimantan, Halmahera Barat, Palu, Sulawesi Tengah, Lombok dan terdengar di beberapa daerah Indonesia yang lain. Tetapi, yang dimaksud dengan Hepi sesungguhnya adalah paus lucu dan manis yang dijadikan tokoh dalam buku creative and reading yang berjudul Hepi Si Paus Penyanyi (The Singing Whale).

Buku ini dimaksudkan untuk menciptakan dan meningkatkan minat baca bagi anak kecil di Indonesia dan menumbuhkan kreativitas dan sekaligus mengembangkan daya nalar kritis anak.

Demikian dijelaskan oleh Ketua Yayasan Suar Asa Khatulistiwa (Saka) Andy Yentriani, yang juga alumnus Program Pendidikan Singkat Angkatan (PPSA) XXI Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Selasa (15/4/2019). Yayasan Saka merupakan organisasi nirlaba yang menaungi PG & TK Cerlang termasuk di dalamnya pendidikan untuk guru, parenting, serta kursus yang berawal di Pontianak, Kalimantan Barat.

Dijelaskan Andy Yentriani, minat baca di Indonesia menjadi salah satu keprihatinan Yayasan Saka. Berada di papan bawah, Indonesia menduduki peringkat ke-106 dari 197 negara yang disurvei World Atlas mengenai tingkat literasi. Sebelumnya, pada 2016, Indonesia dikabarkan hanya satu tingkat di atas Bostwana dalam survei tentang “Most Literated Nations in the World”.

“Daya tangkap pada bacaan juga menguatirkan, mengingat uji EGRA atau Early Grade atau early grade reading assessment pada 2013 menunjukkan hanya 47% dari murid kelas 2 SD yang bisa membaca dengan lancar dan memahami makna bacaannya. Pada saat bersamaan, hanya 18% guru yang mampu menggunakan metode aktif dan efektif dalam mengajar membaca,” kata Andy Yentriany.

Tingkat literasi yang berkait erat dengan minat baca, diurai lebih lanjut olehnya, ditengarai memengaruhi kapasitas sumber daya manusia Indonesia. Indeks Global Human Capital Indonesia berada di posisi keenam di kawasan ASEAN dan peringkat ke-65 dari 130 negara. Selain mengurangi daya saing nasional, kapasitas literasi juga memengaruhi ketahanan masyarakat dalam menghadapi bombardir berita bohong maupun hasutan kebencian.

“Data itu memperihatikan sekali. Oleh karena itu, menyikapi tantangan minat baca tersebut, kami mengembangkan metode creative reading dalam pengajaran. Selain membangun minat baca, creative reading juga mengembangkan daya nalar kritis dan kreativitas anak,” tegas alumnus Lemhannas PPSA XXI ini.

Sebagai tindak lanjut dari upaya tersebut, Saka baru saja menerbitkan buku bergambar bagi anak berjudul Hepi Si Paus Penyanyi. Terbit dalam dua bahasa, yakni bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, buku ini dimaksudkan untuk membuat anak semakin tertarik membaca dan mencari tahu, dan sekaligus menjadi bahan belajar guru tentang creative reading.

Paus Pilihan
Pemilihan paus sebagai tokoh yang dipilih berlatarbelakang dari hasil perbincangan antara murid dan guru tentang ikan. Munculah nama ikan paus, karena pada saat itu viral pemberitaan tentang paus yang terdampar. Pada kesempatan itu, PG & TK Cerlang berkesempatan untuk mengajak para murid mencari sosok paus itu, yang ternyata bukan ikan tetapi mamalia. Diskusi itu berkembang pada keistimewaan paus yang ternyata dapat bernyanyi.

“Dari pertanyaan mengapa Hepi memiliki rambut, kita bisa mengenalkan ilmu alam tentang mamalia. Membayangkan ukuran paus, anak-anak dapat belajar tentang matematika. Kisah Hepi juga menjadi sarana pendidikan karakter anak, misalnya tentang mengelola emosi dan cara bersikap dalam menghadapi kondisi yang tidak menyenangkan,” jelas Sri Wartati, pengagas cerita sekaligus Kepala Sekolah PG & TK Cerlang.

Buku ini mendapat desain dari Ana Hadrian, yang juga guru di PG & TK Cerlang. Meski tampak sekilas untuk anak usia dini, buku Hepi ini bisa menjadi pemantik belajar bagi anak di usia sekolah lebih lanjut. Hal ini ia sampaikan dalam simulasi bersama guru tingkat TK, SD, dan SMP dan di forum anak di Halmahera Barat pada Sabtu (13/4/2019).

Kunci dari creative reading adalah ketrampilan pendamping anak belajar. Para pendamping perlu memiliki ketrampilan bertanya yang menggairahkan rasa ingin tahu anak. Selain itu, pendamping juga perlu mampu mengarahkan rasa ingin tahu anak menjadi langkah-langkah belajar yang lebih luas. Hepi hanyalah salah satu contoh buku, karena creative reading dapat diaplikasi dalam beragam teks.

Sebagai upaya bersama membangun minat baca, Saka sangat bersyukur bahwa ide creative reading mendapatkan dukungan dari banyak pihak. Selain ke Halbar, dukungan ini memungkinkan Hepi dibagikan ke sejumlah desa di terdampak bencana di Palu, Sulawesi Tengah. Juga ke taman bacaan di desa-desa terpencil di Kalimantan Barat. Rencananya, juga ada sejumlah buku yang akan disebarkan ke Lombok dan berbagai daerah lainnya.

“Metode creative reading bisa membuka percakapan pada banyak subjek. Karenanya, Hepi Si Paus Penyanyi bahkan bisa menjadi sarana mengenalkan wawasan Nusantara. Dari Hepi, anak-anak bisa belajar peta laut di Indonesia, suku-suku Nusantara yang memiliki berbagai nama dan hubungan dengan paus, serta keanekaragaman hayati di laut dan masalahnya,” pungkas Andy.



Sumber: BeritaSatu.com