Pameran Ilmiah SPH Hadirkan 20 Inovasi Terbaik Siswa

Pameran Ilmiah SPH Hadirkan 20 Inovasi Terbaik Siswa
Direktur Yayasan Pendidikan Pelita Harapan Stephanie Riady bersama dengan Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristekdikti Prof. Ismunandar dan Direktur SPH Applied Science Akademi Eden Steven mendengarkan penjelasan dari peserta SPH Science Academy Exhibition, Heesun Yoon tentang Fibrinolytic Activity of Bacteria Isolated from Indonesia Fusion Kimchi, Karawaci, Senin 15 April 2019. ( Foto: BeritaSatu Photo / Emral Firdiansyah )
Maria Fatima Bona / IDS Selasa, 16 April 2019 | 11:00 WIB

Tangerang, Beritasatu.com - Sekolah Pelita Harapan (SPH) Lippo Village memiliki kokurikuler yang dikenal dengan program Applied Science Academy(ASA) untuk siswa sekolah menengah pertama (SMA). Program ini memberi ruang kepada siswa berbakat yang tertarik dalam bidang sains untuk menciptakan suatu hal baru atau inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.

Direktur Sekolah Pelita Harapan ASA yang juga merupakan seorang peneliti Indonesia, Eden Steven mengatakan, program ASA perdana ini menghasilkan 20 karya ilmiah atau inovasi dari 24 siswa SPH yang menawarkan solusi untuk beberapa persoalan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, hasil karya mereka juga sangat orisinal dan out of the box, yang berkaitan dengan bioteknologi, biosensor, energi terbarukan (renewable energy), pembelajaran mesin (machine learning), machine vision, mikrobiologi, teknik sipil, ilmu komputer, llmu material, ilmu data, farmasi, food technology, dan robotik.

“Jadi ini memang program percobaan pertama kali SPH. Karena dalam kurikulum tingkat sekolah menengah tidak mengedepankan riset, anak-anak sudah kegerahan dan ingin mencoba hal-hal baru. Mereka ingin ada suatu terobosan dalam dunia sains dengan menciptakan hal baru agar skill mereka tetap diasah dan bertahan lama,” kata Eden pada saat pembukaan pameran ilmiah yang bertemakan "Science Academy Exhibition" di Sekolah Pelita Harapan Lippo Village, Tangerang, Banten, Senin (15/4/2019).

Selain itu, Eden juga mengatakan, pihaknya memberikan siswa kesempatan untuk melakukan inovasi agar sejalan dengan sistem pembelajaran abad 21. SPH melalui Center of Excellence berupaya untuk memberikan ruang bagi siswa untuk melakukan penelitian terdepan, praktikum terbaik, bantuan dengan area-area spesialisasi, dan bimbingan dari mentor yang ahli.

“Applied Science Academy dibentuk dengan tujuan untuk memberdayakan dan mendidik ilmuwan-ilmuwan muda. Hal ini dapat dilakukan dengan adanya paparan otentik ke lingkungan penelitian sehingga dapat terjadinya eksplorasi ilmiah yang menghasilkan inovator muda dalam ilmu terapan,” ujar peraih gelar doktor dari Florida State University dengan spesialisasi di bidang material canggih dan elektronika itu.

Eden menegaskan, meski karya siswa SPH ini berawal dari ide-ide yang mereka temukan di media sosial, tetapi semua karya tersebut adalah orisinal karena sistem atau metode yang digunakan belum pernah digunakan oleh pihak manapun.

Beberapa contoh karya mereka adalah pembalut luka berbasis protein sutra dengan ekstrak tanaman lokal yang dapat menyesuaikan diri dengan luka dan dilengkapi sifat retensi bahan antimikroba serta bahan aktif yang kuat. Ada juga yang melakukan penelitian dengan memisahkan dan mengidentifikasi bakteri dari Kimchi dimana ia menemukan bahwa bahan tersebut berpotensi mencegah pembekuan darah.

“Siswa lain juga melakukan penelitian di bidang robotik dimana ia mengembangkan sistem pelacakan mata atau eye tracking system yang memungkinkan lengan robot untuk mengambil benda dengan eye movement,” jelasnya.

Ada juga murid lain yang mempelajari kristal yang dapat menyerap cahaya, plastik ramah lingkungan, serta mengembangkan film plastik dengan zat tepung. Ia melakukan analisis terperinci dan optimalisasi untuk meningkatkan kinerja plastik biodegradable.

Semua siswa wajib mengikuti bimbingan yang diberikan oleh para pakar dari lembaga riset dan profesor dari perguruan tinggi yakni Universitas Pelita Harapan (UPH) selama kurang lebih delapan bulan sejak Agustus 2018 hingga April 2019 ini.

“Saya telah menyaksikan banyak bakat luar biasa dari murid-murid ini dan bahkan mereka dapat melampaui ekspektasi saya terhadap murid-murid ASA kelas 10, 11, 12. Beberapa dari hasil ilmiah mereka sangatlah orisinal, unik, dan berkualitas tinggi. Bahkan kami berencana untuk memasukkannya dalam publikasi ilmiah internasional,” katanya.



Sumber: Suara Pembaruan