Maraknya Perundungan, LIPI: Bekali Anak untuk Terima Perbedaan

Maraknya Perundungan, LIPI: Bekali Anak untuk Terima Perbedaan
Kampanye anti-perundungan. ( Foto: Antara )
Ari Supriyanti Rikin / IDS Selasa, 16 April 2019 | 11:14 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mendorong agar anak-anak sejak dini dibekali kemampuan untuk menerima berbagai perbedaan dalam kehidupan sosial. Dengan begitu diharapkan, anak menjadi pribadi yang utuh dan mampu menghargai keberadaan orang lain di sekitarnya.

Hal ini sangat penting ditanamkan, karena pesatnya perkembangan teknologi dan era digital membuat kasus perundungan (bullying) mudah mencuat dan menyebar. Kasus perundungan yang menimpa seorang pelajar SMP di Pontianak menjadi perhatian berbagai kalangan baru-baru ini. Sebab, kasus ini melibatkan anak yang masih di bawah umur.

Peneliti tim remaja Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, Augustina Situmorang mengatakan, perundungan sebenarnya sudah terjadi sejak dulu. Hanya saja di era digital, kasus tersebut dengan mudah diketahui masyarakat luas bahkan dunia.

"Disadari bahwa kita belum punya etika untuk berbicara di ruang publik melalui media sosial atau digital," katanya saat dihubungi Beritasatu di Jakarta, Senin (15/4).

Dahulu, orang akan segan jika berbicara langsung. Namun melalui saluran komunikasi digital, ketika berbicara melalui tulisan di media sosial meskipun itu ditulis di sebuah kamar tertutup, pembacanya bisa berasal dari berbagai penjuru.

Di sinilah orang tua harus mencoba untuk membangun komunikasi dengan anak. Meski remaja adalah masa peralihan dari anak-anak ke dewasa yang cukup sulit diselami, orang tua harus mencoba menjadi teman berbicara yang baik dengan anak-anaknya.

Hal senada juga diungkapkan Kepala Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, Herry Yogaswara. Menurutnya, menilik ke belakang sebenarnya berbagai permasalahan remaja sudah sering muncul dan berulang. Namun, pemberitaannya seakan berhenti dengan sendirinya tanpa menghasilkan solusi kebijakan komprehensif.

Menurut Herry, berbagai pandangan kemudian bermunculan setiap kejadian perundungan kembali mencuat. "Mulai dari analisis faktor-faktor yang melatarbelakangi peristiwa ini, pertanyaan tentang sistem pendidikan, sistem hukum, dan kebijakan perlindungan anak, hingga bagaimana remaja dan lingkungan terdekat (keluarga) melihat permasalahan ini," paparnya.

Kelompok penelitian keluarga dan kesehatan Pusat Penelitian Kependudukan LIPI dalam beberapa tahun terakhir juga memberikan perhatian terhadap isu perundungan dan kekerasan yang melibatkan remaja.

"Isu ini menjadi salah satu dari perilaku berisiko remaja di era digital yang dikaji, dikaitkan dengan upaya menguatkan peran keluarga serta untuk menghasilkan solusi kebijakan yang lebih baik dan komprehensif," ungkap Augustina.

Peneliti bidang pendidikan Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, Anggi Afriyansyah mengatakan, perundungan adalah persoalan laten yang sudah sangat mengakar dan tidak bisa diabaikan.

"Kasusnya sudah banyak, demikian juga korbannya. Diawali kekerasan verbal, kemudian diikuti kekerasan fisik," ucap Anggi.

Menurutnya, seringkali masyarakat baru sadar ketika ada kekerasan fisik yang menimbulkan korban sehingga upaya preventif menjadi sangat penting dilakukan. "Perhatian menyeluruh dari beragam elemen yakni keluarga, sekolah, dan masyarakat sangatlah krusial," katanya.

Anggi menyoroti diskusi dan saling bercerita di rumah yang kini menjadi sangat langka di tengah kesibukan, terutama orang tua yang bekerja di wilayah perkotaan. Padahal orang tua harus intens dan tahu apa yang dilakukan anaknya, juga dengan gerak-gerik anak di dunia maya.

Di elemen pendidikan, dirinya melihat ekosistem pendidikan belum secara maksimal menyentuh relung akal budi anak didik. Sementara dalam kehidupan bermasyarakat, pemerintah perlu melihat adanya perubahan nilai keluarga, juga transformasi era digital sehingga dapat membuat kebijakan dan program yang sesuai dengan kebutuhan.

"Semua pihak mesti bekerja bersama dan sadar bahwa persoalan ini sangat serius," tegasnya.



Sumber: Suara Pembaruan