Pertama Kali, LIPI Bangun Laboratorium Bioproduk Terintegrasi

Pertama Kali, LIPI Bangun Laboratorium Bioproduk Terintegrasi
Kepala LIPI Laksana Tri Handoko (tengah) bersama sejumlah pejabat di jajaran LIPI dan Bappenas menekan tombol menandai dibangunnya laboratorium bioproduk pertama di Indonesia, Selasa 16 April 2019. ( Foto: ari supriyanti rikin )
Ari Supriyanti Rikin / EAS Selasa, 16 April 2019 | 15:58 WIB

Bogor, Beritasatu.com - Menyadari kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia begitu tinggi, dan belum sepenuhnya terkelola dengan baik sehingga menghasilkan nilai tambah, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memulai pembangunan laboratorium terintegrasi bioproduk pertama di Indonesia.

Disebut terintegrasi karena berbagai proses seperti indentifikasi, pengujian dan karakterisasi, standarisasi serta sertifikasi bisa dilakukan di satu tempat yakni di intregated laboratory of biproducts (iLaB).

Kepala LIPI Laksana Tri Handoko mengatakan, laboratorium bioproduk terintegrasi saat ini belum ada di Indonesia. Keberadaan iLaB sangat penting dan dapat berkontribusi nyata dalam pengembangan iptek dan sistem inovasi nasional.

"Bagaimana kita bisa manfaatkan keragaman hayati lokal menjadi material baru. Kita integrasi lab ini sehingga lebih efisien. Bisa dipakai bersama siapapun untuk kepentingan nasional," katanya di sela-sela ground breaking iLaB di Kawasan Cibinong Science Center Botanical Garden, Bogor, Selasa (16/4/2019).

Handoko menilai, di lab ini nantinya mitra industri bisa memanfaatkannya. Diharapkan iLaB mampu mendukung pengembangan biomaterial nasional sehingga produknya bisa bernilai ekonomi.

"Bambu misalnya jadi papan kuat, hal ini bisa menjadi subtitusi di tengah kayu yang semakin langka," ucapnya.

Tak hanya itu, iLab juga dapat dijadikan tempat memeriksa dan menilai berbagai produk yang masuk ke Indonesia dan banyak yang tidak tersertifikasi.

Bioproduk merupakan material berbahan sumber daya hayati yang diproses menjadi produk baru yang mempunyai nilai tambah ekonomi seperti biokomposit, biopestisida, papan serat, perekat alam ramah lingkungan, bioetanol dan lainnya.

Senada dengan itu, Deputi Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI Enny Sudarmonowati menyebut, di tengah arus perdagangan bebas saat ini membuat produk global tak lagi terbatasi oleh sekat negara.

"Banyak produk asing yang masuk ke Indonesia namun tidak semuanya melalui uji standar mutu yang layak dan sesuai dengan kondisi iklim Indonesia," ucapnya.

Selanjutnya, di tahun depan, LIPI berencana membangun laboratorium bioteknologi genomik dan laboratorium biodiversitas dan lingkungan.

Pelaksana tugas Kepala Pusat Penelitian Biomaterial LIPI Dede Heri Yuli Yanto mengungkapkan, iLaB akan dibangun berlantai dua dengan luas 3.379 meter persegi. Lab akan dilengkapi fasilitas pendukung seperti ruang pengolah data, ruang persentasi data, ruang tampilan bioproduk, ruang pelayanan dan ruang pelatihan.

Pembangunan iLaB ini mendapatkan pendanaan dari Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas melalui mekanisme pembiayaan surat berharga syariah negara (SBSN) tahun anggaran 2019 dengan total usulan Rp 95 miliar.

Ditargetkan pembangunannya rampung akhir tahun 2019 dan awal tahun 2020 siap beroperasi.



Sumber: BeritaSatu.com