Sultan Hamengkubuwono X: Yang Menang Jangan Jemawa, yang Kalah Kesatria

Sultan Hamengkubuwono X: Yang Menang Jangan Jemawa, yang Kalah Kesatria
Sri Sultan Hamengku Buwono melaksanakan hak pilihnya di Tempat Pemungutan Suara 15, Kelurahan Panembahan, Kecamatan Kraton Yogyakarta, Rabu (17/4/2019). ( Foto: Suara Pembaruan / Fuska Sani Evani )
Fuska Sani Evani / FMB Rabu, 17 April 2019 | 12:42 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X bersama keluarga, dengan berjalan kaki saat menuju Tempat Pemungutan Suara (TPS) 15, Kelurahan Panembahan, Kecamatan Kraton Yogyakarta untuk melaksanakan hak pilihnya.

Bersama permaisurinya, GKR Hemas yang juga maju kembali menjadi anggota DPD RI dari Dapil DIY, tampak empat putri Sultan yakni GKR Condrokirono, GKR Maduretno, GKR Hayu dan GKR Bendoro juga memilih di tempat yang sama. Sementara, putri sulung Sultan, GKR Mangkubumi, terdaftar sebagai pemilih di TPS 22 di kelurahan yang sama, sesuai tempat tinggalnya.

Ketua PPK Kecamatan Kraton Sigit Agung menjelaskan, TPS 15 terletak di belakang kompleks Kraton Yogyakarta. Bangunan rumah berbentuk rumah Joglo tradisional dengan ornamen tradisional khas keluarga kerajaan Ngayogyakarta.

Seluruh petugas di TPS 15 akan menggunakan busana tradisional Jawa bernuansa ungu muda, termasuk petugas perempuan, juga mengenakan kebaya.

Datang pada pukul 07.30 WIB, Sri Sultan mengenakan batik warna merah muda senada dengan blus yang dikenakan GKR Hemas. Di TPS ini, terdapat 285 daftar pemilih tetap (DPT) dan tujuh DPT tambahan dan Sultan berada di urutan 91, sementara GKR Hemas di urutan 92.

Usai menggunakan hak pilihnya, Sri Sultan mengatakan pemilu merupakan bagian dari demokratisasi, dan harus berlangsung tanpa tekanan. Sultan meminta agar nantinya pemenang tidak jemawa, sedangkan yang kalah harus bersikap kesatria.

Sebelumnya, Sultan sempat mengatakan bahwa hak dan kedaulatan memilih berada di tangan rakyat. Tidak perlu melakukan people power. Justru peran dan partisipasi masyarakat penting untuk menyukseskan pelaksanaan pesta demokrasi.

Sementara itu, terpisah, Bawaslu Kabupaten Sleman mendapatkan laporan adanya dugaan pelanggaran pemilu dari seorang guru yang maju sebagai calon legislatif. Diduga, yang bersangkutan berkampanye di sekolah, bahkan saat masa tenang Pemilu 2019.

Koordinator Divisi Hukum Data dan Informasi Bawaslu Sleman, Arjuna Al Ikhsan Siregar saat dikonfirmasi Selasa (16/4/2019) memaparkan saat ini pihaknya tengah melakukan klarifikasi kepada pihak pelapor dan mengumpulkan bukti awal.

Ikhsan menjelaskan, laporan itu berawal ketika seorang murid sebuah SMK di Sleman mendapati gurunya memperagakan simulasi kampanye di depan kelas. Murid tersebut kemudian memotret simulasi itu dan menyampaikan kepada orangtuanya. Lewat orangtua siswa tersebut, Bawaslu Sleman kemudian menelusuri kejadian tersebut.

Dalam kasus ini, Bawaslu berharap pelapor dan saksi fakta bersedia memberikan keterangannya untuk mempermudah proses investigasi.

"Kesulitan kita, masyarakat kadang enggan jadi saksi, itu yang membuat Bawaslu sulit mendapatkan bukti. Karena kalau tak ada saksi, kita masuk di persidangan hakim pasti menanyakan saksi faktanya di mana, ya minimal dua saksi atau dua alat bukti," urainya.



Sumber: Suara Pembaruan