Tidak Bisa Membaca, Warga di Belu Kesulitan Pilih Caleg

Tidak Bisa Membaca, Warga di Belu Kesulitan Pilih Caleg
Ilustrasi pemungutan suara. ( Foto: Antara )
Asni Ovier / AO Rabu, 17 April 2019 | 16:28 WIB

Kupang, Beritasatu.com - Sejumlah warga di desa Silawan, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, yang terletak dekat perbatasan Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Timur Leste, sulit menentukan pilihannya saat mencoblos di kertas suara calon anggota DPRD, DPR, dan DPD. Pasalnya, warga itu tidak bisa membaca.

"Saya mencoblos saja tadi. Tidak tahu, yang mana orangnya, karena memang saya tidak bisa membaca. Tetapi, kalau untuk mencoblos surat suara presiden , saya mengerti," kata Ana, seorang wanita berusia 40 tahun yang ditemui setelah mencoblos di TPS 001 Desa Silawan, Belu, NTT, Rabu (17/4/2019).

Ia mengaku bingung karena hanya ada nama-nama caleg. Tidak seperti surat suara pilpres yang ada foto dan nama calon presidennya. Hal ini diakui juga oleh Ketua Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di tempat itu, Isak Polly yang menyatakan bahwa puluhan warga dari 250 daftar pemilih sulit membaca.

"Hal ini yang juga membuat agak lama proses pencoblosannya karena pemilih harus mencari-cari lagi," ujar dia. Tak hanya sulit membaca, pemilih juga kesulitan melipat kembali surat suara yang sudah dicoblos sehingga membutuhkan arahan dari anggota KPPS ketika hendak memasukkan surat suara ke kotak suara.

Kepala Desa Silawan, Ferdi Mones Bili ditemui secara terpisah mengakui adanya warga yang buta huruf. "Ini yang kita takutkan dan hal itu terbukti ketika dilakukan pencoblosan," ujar dia.

Padahal, antusiasme warga di desa itu untuk memilih sangat tinggi. Sayangnya hal itu tak didukung dengan adanya kertas suara bergambar wajah caleg. "Artinya, banyak warga di TPS ini tak bisa mencoblos caleg sesuai dengan hati nuraninya. Kasus seperti ini juga tak hanya ada di TPS 001 tetapi ada di TPS lain di desa ini," ujar dia.



Sumber: ANTARA