Seusai Pemilu, Masyarakat Harus Perkuat Kerukunan, Persaudaraan, dan Perdamaian

Seusai Pemilu, Masyarakat Harus Perkuat Kerukunan, Persaudaraan, dan Perdamaian
Dede Rosyada ( Foto: istimewa )
Bernadus Wijayaka / BW Jumat, 19 April 2019 | 23:04 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pesta demokrasi Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 telah usai. Masyarakat Indonesia begitu antusias memilih presiden dan legislatif pada Rabu (17/4/2019).

Hal ini menunjukkan bahwa kematangan demokrasi bangsa ini makin meningkat dari tahun ke tahun. Namun, sebelum pemilu, masyarakat dibuat tegang dan bahkan terpecah karena perbedaan pilihan. Berita bohong (hoax), ujaran kebencian, saling menjelek-jelekkan satu sama lain banyak bermunculan, baik di media sosial maupun di dunia nyata.

Padahal, Pemilu ini sejatinya adalah sistem demokrasi yang dilaksanakan berdasarkan nilai dan falsafah Pancasila. Pemilu bukan untuk memecah belah persaudaraan, tempat menabur caci maki, apalagi menabur kebencian antarsesama.

Dengan telah berakhirnya pemilu tersebut, guru besar Fakultas Ilmu Tabiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Dede Rosyada meminta masyarakat bisa menjaga kerukunan dan perdamaian di negeri ini.

“Karena itulah hakikatnya demokrasi Pancasila, yakni demokrasi yang memiliki nilai-nilai luhur kejujuran, yang bukan semata-mata mengantarkan kemenangan,” ujar Dede Rosyada, di Jakarta, Jumat (19/4/2019).

Lebih lanjut Dede menjelaskan, masyarakat sejatinya melihat ajang pemilu itu sebagai sebuah proses demokrasi untuk memperkuat legitimasi bangsa ini. Bukan memanfaatkan Pemilu untuk mendahulukan kepentingan seseorang atau sekelompok orang yang dapat memecah persatuan, tetapi harus lebih mengutamakan kepentingan bangsa.

“Biarkan mereka yang mendapat dukungan masyarakat memimpin bangsa ini, karena itu adalah mandat untuk membawa perubahan dalam rangka kemajuan bangsa. Setidaknya dalam aspek ekonomi, perdagangan, pemajuan sains dan teknologi yang akan membantu memperkaya barang-barang komoditas yang bisa dijual ke pasar global,” ujar mantan rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

Tak hanya itu, menurutnya masyarakat juga harus bisa bahwa melihat pesta demokrasi ini adalah upaya untuk membangun bangsa demi memperkuat dan merawat persaudaraan sesuai demokrasi Pancasila. Hal itu karena Indonesia adalah negara demokrasi yang dilakukan serempak demokrasi dalam politik dan ekonomi.

“Dan demokrasi dalam bidang politik ini diwujudkan dalam bentuk partisipasi dalam pemilihan umum lima tahunan untuk memilih Presiden dan wakil Presdien, anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten atau Kota,” ujar Dede dalam keterangan tertulis kepada Beritasatu.com.

Kini, rasa persaudaraan sebangsa dan setanah air akan mengalahkan egoisme kepentingan politik masing-masing. Akan tetapi, bagi para pekerja partai dan para pekerja politik, emosi kemenangan dan kekalahan mereka bisa mengalahkan rasionalitasnya sendiri.

“Untuk itu, kita patut mengimbau agar mereka semuanya bisa kokoh dalam persaudaraan kebangsaan, jaga keutuhan bangsa, dan perkuat kesatuan demia masa depan bangsa Indonesia,” kata Dede.



Sumber: Suara Pembaruan