Menghormati Sang Raja, Umat Gereja Cewonikit Pakai Pakaian Adat

Menghormati Sang Raja, Umat Gereja Cewonikit Pakai Pakaian Adat
Koor saat misa Jumat Agung (19/4/2019) Gereja Santo Vitalis Cewonikit. Ruteng, ( Foto: beritasatu.com / Willy Grasias )
Willy Grasias / EHD Sabtu, 20 April 2019 | 23:52 WIB

Ruteng, Beritasatu.com – Perayaan Jumat Agung (19/4/2019) di Gereja Santo Vitalis Cewonikit Ruteng terkesan benar-benar agung dan indah. Mengapa ? Selain sekitar 2.000 orang umat yang menghadiri perayaan Jumat Agung itu melaksanakan perayaan dengan khusuk, juga para umat memakai pakaian adat Manggarai.

Para pria mengenakan destar dan kain songke. Sedangkan para wanita mengenakan busana kebaya yang dilengkapi kain songke. Bahkan anak-anak dan balita sekalipun terlihat memakai pakaian adat.

Mengapa umat memakai pakaian adat ? Pertama, karena Yesus adalah Raja dan Tuhan. maka mengenang peristiwa kematiannya harus dilaksanakan secara seksama dan khusuk. Sesuai dengan adat Manggarai, dalam menghadiri acara kematian keluarga atau kenduri tetangga apalagi kalau yang meninggal dunia orang terpandang maka para pelayat atau yang menghadiri pesta kenduri sepatutnyalah memakai pakaian Adat Manggarai.

Kedua, perayaan Jumat Agung merupakan perayaan yang sungguh besar dalam tradisi gereja terutama Gereja Katolik. Dalam tradisi orang Manggarai, dalam melaksanakan perhelatan besar, patutlah memakai pakaian adat, seperti destar, baju putih lengan panjang, tubi rapa (penghiasa sekitar leher) dan kain songke bagi lelaki. Sedangkan perempuan baju putih atau merah, belo-belo (mahkota kepala), dan kain songke.

Ketiga, sebagaimana dikatakan Evarista G Taranipa, aktivis Justice, Peace and Integrity of Creation (JPIC) atau Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan Keuskupan Ruteng yang mengikuti Perayaan Jumat Agung di gereja tersebut mengatakan, seluruh umat memakai pakaian adat ketika ke gereja dapat mendorong pertumbuhan pelaku usaha tenun songke Manggarai. “Berpakaian seperti ini juga tindakan mengiklankan kain songke serta memasarkan. Dengan demikian pelaku usaha ini akan tertumbuh,” kata Evarista G Taranipa.

Evarista G Taranipa menghimbau, agar menggunakan pakai adat Manggarai, terutama kain tenun songke sebaiknya setiap hari Minggu ketika ke gereja. “Kita harus bangga memakai pakai adat kita sendiri. Orang Jawa boleh bangga dengan batik, kita harus bangga dengan songke,” kata dia.

Menggarisbawahi pernyataan Evarista bahwa “mewajibkan” umat memakai busana adat ketika ke gereja, itu berarti gereja berperan penting dalam menumbuhkan sektor usaha kecil dan menengah (UKM) tertutama perajin tenun songke di Manggarai.
Sebagaimana diketahui, gereja mempunyai tiga pengertian, yakni gereja sebagai gedung tempat beribadah, gereja diartikan sebagai orang terpilih atau kaum klerus seperti uskup, iman, diakon, bruder dan suster. Dan ketiga, gereja sebagai kumpulan umat Allah.

Dalam pengertian gereja yang kedua dan ketiga, yakni kaum klerus dan para umat Katolik Manggarai sepakat memakai pakai adat setiap melaksanakan ibadat di gereja, maka sektor usaha kain songke dan terunannya akan berkembang pesat di Manggarai.

Untuk berbusana adat ini, Vitalis Mampul tokoh masyarakat yang dijumpai di saat khusuknya upacara itu menyatakan, dalam keseharian orang Manggarai mengenakan busana adat lengkap seperti saat upacara Jumat Suci seperti hari ini, merupakan adaptasi dari keseharian hidup orang Manggarai. “Orang Manggarai mengenakan busana lengkapi seperti ini pada upacara adat dan terutama dalam upacara kematian" katanya.

Sebagaimana diketahui, pengunaan tenun ikat di Nusa Tenggara Timur (NTT), Gubernur NTT telah mengeluarkan instruksi tentang penggunaan tenun ikat sebagai pakain kerja para Aparatur Sipil Negara (ASN) lingkup provinsi dan kabupaten kota setiap hari Selasa dan Jumat serta Minggu.

"Ini artinya ke depan tenun ikat ikat ini ketika menjadi busana wajib di provinsi ini tentu sangat memajukan usaha tenun ikat pada wilayah wilayah sentra pengrajin tenun ikat seperti Kecamatan Cibal, Reok, Reok Barat dan Todo,” lanjut dia.

Jumat Agung adalah Hari Jumat sebelum Minggu Paskah, hari peringatan penyaliban Yesus Kristus dan wafat-Nya di Golgota.
Romo Diosesan (RD) Servulus Juanda dalam kotbahnya pada Jumat Agung itu, mengatakan, menghayati salib dalam hidup
bagaikan pohon yang akar-akarnya menancap sampai ke pusat bumi dan daun-daunnya menjulang sampai ke langit, demikianlah terpancang salib Kristus. Lebih dua puluh abad agama Kristen memperkenalkan salib Kristus sebagai lambang kehormatan dan kejayaan.

Servulus Juanda mengatakan, salib itu mula-mula adalah alat penganiayaan para budak. “Siapakah di antara kita yang bukan termasuk budak nafsu-nafsunya, prasangka dan egoismenya? Siapakah di antara kita yang tidak mengenal penderitaan dan cobaan dalam segala bentuk pemunculannya ?” kata dia.

Setelah diangkat dari bumi, Kristus menarik semua orang kepada diri-Nnya (Yoh 12:32). Pada puncak penderitaan-Nya Ia menyatakan cinta kasih-Nya. “Jumat Agung membuka selubung salib bagi kita dan menghadapkan kita pada suatu pemilihan yang amat penting,” kata dia.

Menurut Servulus, manusia tidak mungkin mengelakkannya, harus menerima atau menolak jalan keselamatan Kristus. Manusia harus menentukan sikap. “Dan semuanya itu hendaknya kita lakukan secara bebas sebagaimana Kristus melakukannya" katanya.



Sumber: BeritaSatu.com