Hari Kartini, Perempuan Papua Berkiprah hingga ke Kancah Dunia

Hari Kartini, Perempuan Papua Berkiprah hingga ke Kancah Dunia
Menteri PPPA, Yohana Yembise, saat mengunjungi korban bencana banjir bandang di Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, 31 Maret 2019. ( Foto: Beritasatu Photo / Dok. Humas Kementerian PPPA )
Jeis Montesori / FMB Minggu, 21 April 2019 | 13:37 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Kaum perempuan Papua tidak lagi boleh dipandang sebelah mata. Mereka kini sudah semakin maju dan berperan tidak saja di tingkat daerah Papua, tetapi juga di tingkat nasional bahkan internasional.

Hal itu dikatakan tokoh Papua, Wolas Krenak kepada Beritasatu.com, terkait momentum Hari Kartini, Minggu, 21 April 2019.

Wolas Krenak, mantan anggota Majelis Rakyat Papua untuk Papua Barat (MRP-PB) mengatakan, kaum perempuan Papua saat ini sudah banyak yang memegang peranan-peranan penting, baik di lingkup pemerintahan, pendidikan, sosial budaya maupun lembaga-lembaga independen lainnya.

Ia menyebutkan beberapa nama seperti Dr Yohana Yembise, yang sekarang menjadi Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pada kabinet pemerintahan Presiden Joko Widodo untuk periode 2014-2019.

Kemudian Dr Fransina Yoteni, satu-satunya perempuan Papua yang menjadi anggota Dewan Gereja Sedunia. Atas dorongan Dr Fransi Yoteni beserta para pendeta lainnya mendukung inisiatif perdamaian di Tanah Papua.

Ada juga Olga Helena Hamadi, asal Jayapura, Papua, yang berprofesi sebagai pengacara untuk kasus-kasus pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di Papua. Juga ada Corry Kayame, yang menjadi perempuan pertama yang menjadi pilot.

Ada Yakoba Womsiwor, dosen cerdas multitalenta di Universitas Cenderawasih (Uncen) Papua. Saat ini Yakoba Womsiwor sedang melanjutkan studi untuk meraih gelar doktor pada sebuah universitas di Amerika Serikat.

Selanjutnya Dr Marlina F, lulusan sebuah universitas dari Jerman, dan membidangi doktor dalam bidang ilmu antropologi kesehatan.

Wolas Krenak mengatakan ada sederetan nama perempuan Papua lainnya yang sedang berkarier dalam bidangnya di berbagai negara di dunia. Mereka ada di kedutaan-kedutaan besar Indonesia di luar negeri dan ada juga yang bekerja di NASA (National Aeronautics and Space Administration) atau Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat.

“Sudah sejak dulu atau sejak masa koloni Belanda, perempuan Papua telah menempati posisi-posisi penting oleh karena kemampuan mereka di bidangnya masing-masing,” kata Wolas Krenak, mantan wartawan harian umum Suara Pembaruan.

Menurut, saat ini sedang tumbuh generasi-generasi Papua dalam berbagai bidang. “Mereka sedang berjuang untuk meraih prestasi dan keberhasilan,” katanya.

Namun, selain adanya prestasi yang membanggakan itu, kata Wolas Krenak yang juga pernah lama menjadi wartawan di Istana Kepresidenan, masih ada juga sejumlah keprihatinan terhadap pengembangan dan penguatan kapasitas perempuan Papua.

Keprihatinan itu, kata Wolas, yakni perhatian terhadap “mama-mama” Papua yang bekerja di sektor riil yaitu sebagai pedagang kecil di pasar-pasar tradisional yang tersebar di Tanah Papua.

Mereka itu, kata Wolas Krenak, masih kurang disentuh oleh program yang bisa secara maksimal memberdayakan dan mengangkat kehidupan mereka terutama dari segi sosial ekonomi.

Salah satu yang penting diperhatikan, kata Wolas Krenak, adalah adanya penggunaan dana otonomi khusus (otsus) Papua. Di mana ada anggaran sebesar 15 persen dari alokasi dana otsus setiap tahunnya harus digunakan untuk program peningkatan kesehatan dan gizi bagi masyarakat ekonomi lemah, termasuk di dalamnya adalah “mama-mama” Papua.

“Belum terlihat dengan baik pemanfaatan dana 15 persen untuk peningkatan kesehatan dan gizi bagi 'mama-mama' Papua, sehingga hal ini haruslah menjadi perhatian pemerintah kita ke depan,” kata Wolas Krenak. 



Sumber: Suara Pembaruan