Dituduh Jadi Dalang Hitung Cepat Palsu, Burhan Lapor Polisi

Dituduh Jadi Dalang Hitung Cepat Palsu, Burhan Lapor Polisi
Burhanuddin Muhtadi. ( Foto: Antara )
Farouk Arnaz / JAS Senin, 22 April 2019 | 17:34 WIB

Jakarta, Beritasatu.com — Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indikator Burhanuddin Muhtadi muncul di Bareskrim Polri Senin (22/4/2019). Dia melaporkan empat akun media sosial yang menyebarkan fitnah terhadap dirinya terkait hitung cepat atau quick count Pilpres 2019 yang dia gawangi.

“Ini atas nama pribadi Burhanuddin Muhtadi di mana saya sejak kemarin diserang ribuan akun yang menuduh saya menjadi dalang quick count palsu yang ada di TV dan menerima bayaran Rp 450 miliar untuk quick count palsu dengan menggunakan strategi post truth,” kata Burhan.

Dalam unggahan-unggahan yang viral itu, masih kata Burhan, dia dituduh melakukan strategi post truth dengan memborbardir publik melalui quick count yang memenangkan paslon 01. Narasi itu dibangun dengan mencantumkan video Burhan saat dia berbicara dalam sebuah diskusi sebelumnya.

“Padahal video tersebut sama sekali tidak ada kaitannya dengan quick count. Ceritanya pada 21 Maret saya bersama Prof Renald Khasali diundang dalam diskusi untuk membicarakan elektabilitas Pak Jokowi. Saat itu saya mengatakan Pak Jokowi paling dapat 55 persen karena sebelum pemilu perolehan (surveinya) 54,9 persen,” urainya.

Burhan dalam video itu menjelaskan jika itu terjadi karena sekarang era post truth di mana objektive truth tidak terlalu penting yang penting fenomena truth. Post truth diterangkan Burhan dalam video terjadi di Hungaria, Ceska, Brexit, Amerika, hingga Brasil. Fenomena post truth juga masuk ke Indonesia melalui proses poisoning the water.

“(Era post truth) orang tidak lagi bicara data angka tapi emosi. Media sosial lebih memfasilitasi bekerjanya post truth. Pemilih bukan berbagi informasi tapi emosi. Itu konteks saya bicara. Tapi di video yang viral itu saya (malah dipelintir) dituduh melakukan post truth untuk memenangkan Jokowi dengan membuat quick count palsu,” keluhnya.

Padahal quick count yang dia lakukan—yang menunjukkan Jokowi unggul— benar adanya. Dia juga sudah mengekspos apa yang dia lakukan bersama lembaga dengan mengambil sampel dari 3.000 TPS.



Sumber: BeritaSatu.com