Dari Muntah Darah, Keguguran, hingga Opname Gara-gara Pemilu

Dari Muntah Darah, Keguguran, hingga Opname Gara-gara Pemilu
Petugas lepas KPU DKI memasukkan data ke Sistem Informasi Penghitungan (Situng) DKI Jakarta di Hotel Merlyn Park, Jakarta, Senin 22 April 2019. ( Foto: SP/Joanito De Saojoao )
Aries Sudiono / FMB Rabu, 24 April 2019 | 09:42 WIB

Jember, Beritasatu.com - Dewi Lutfiatun Nadhifah (28), pengawas Tempat Pemungutan Suara (PTPS) di Desa Sruni, Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur (Jatim), mengalami keguguran dan kini dalam proses pemulihan akibat kelelahan. Sehari pascapemungutan suara, Mu’in (69), petugas Linmas TPS-06 Dusun Krajan, Desa Lembengan, Kecamatan Ledokombo, Kabupaten Jember, meninggal dunia. Terbaru, petugas Panitia Pemungutan Suara (PPS) Kelurahan Jember Kidul, Kabupaten Jember, Nuril Maimunah, muntah darah saat proses rekapitulasi surat suara Pemilu Presiden (Pilpres) dan Pemilu Legislatif (Pileg) di PPK Kecamatan Jember, Selasa (23/4/2019).

“Ini karena kelelahan setelah berhari-hari bertugas di Pemilu 2019. Beruntung, petugas medis dari Dinas Kesehatan Jember yang membuka posko kesehatan di lokasi rekapitulasi surat suara PPK langsung tanggap. Mereka segera memeriksa kondisi kesehatan seluruh anggota PPS Kelurahan Jember Kidul, Kecamatan Kaliwates. Untuk Nuril muntah darah, menurut dokter karena faktor kelelahan. Petugas kemudian memberikan obat kepada Nuril agar batuk darahnya reda. Hanya saja Nuril tetap meneruskan pekerjaannya sebagai petugas rekapitulasi karena hari itu (Selasa kemarin) merupakan hari terakhir,” ujar Komisioner KPU Jember Divisi SDM dan Parmas, Ahmad Hanafi, dikonfirmasi, Rabu (24/4) tadi pagi.

Nuril Maimunah sendiri mengaku, bahwa sudah beberapa hari sebelumnya ia pulang malam dan kerja lembur tanpa tidur. Ia baru menyadari akibat kelelahan, ia sampai batuk darah.

Tak hanya Nuril, para saksi, petugas PPS, PPK serta aparat kepolisian juga mengaku kelelahan karena bekerja dari sejak sebelum hari H, hingga proses rekapitulasi penghitungan surat suara di TPS hingga mengawalnya ke PPS Kelurahan, selanjutnya dikirim ke PPK Kecamatan untuk penghitungan ulang. Tidak hanya petugas namun juga sejumlah saksi dari partai politik turut memeriksakan kesehatannya di posko kesehatan Dinkes di PPK Kaliwates.

Sementara itu, dr Irma Zakinah yang dikonfirmasi kemarin menyatakan bahwa pada umumnya petugas PPS dan PPK memeriksakan kesehatannya karena merasa kelelahan. Dampaknya kondisi kesehatan mereka menurun, hingga ada yang muntah darah akibat ada masalah di lambungnya. “Rupanya Mbak Nuril Maimunah enggan makan, perut kosong dan terus bekerja. Dia kelelahan dan lambungnya luka. Makanya saya minta yang bersangkutan kita beri obat, makan cukup dan istirahat,” katanya.

Opname
Sedikitnya empat orang petugas Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) di Kabupaten Jember, dilaporkan pingsan akibat kelelahan melakukan rekapitulasi suara Pemilu Presiden (Pilpres) dan Pemilu Legislatif (Pileg). Mereka telah dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis. Empat petugas PPK yang pingsan masing masing, Taufik, PPK Jenggawah, Rahmatullah, PPK Sukorambi, Nur Maidah Fatmawati, yang menjadi PPK Sumberbaru, dan Mochtar Amin, yang bertugas sebagai PPK Kalisat.

“Untuk petugas PPK, Mochtar Amin, dirawat di Rumah Sakit Citra Husada Jember. Dia masih lemah,” ujar Komisioner KPU Jember Ahmad Hanafi. Menurut pengakuan Muchtar, dia sudah merasa meriang karena terus bekerja beberapa hari dari mulai menjaga kotak suara hingga melakukan rekapitulasi penghitungan suara pilpres dan pileg di Kalisat. Ia baru pingsan setelah berada di kamar kecil.

“Dari diagnosa dokter, selain kecapekan, saya juga menderita vertigo dan dehidrasi karena terus bekerja nonstop. Saya memang tiga hari tiga malam kurang tidur menjaga kotak suara, tetapi saya paksakan karena itu tanggung jawab saya,” ujar Muchtar yang masih menjalani rawat inap hingga semalam. Ia berharap, sesegara mungkin sembuh dan bisa pulang ke rumah kembali. 



Sumber: Suara Pembaruan