60 Kelurahan di Surabaya Lakukan Hitung Ulang Suara

60 Kelurahan di Surabaya Lakukan Hitung Ulang Suara
Ilustrasi rekapitulasi penghitungan suara. ( Foto: Antara )
Aries Sudiono / FMB Rabu, 24 April 2019 | 10:02 WIB

Surabaya, Beritasatu.com - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Surabaya akhirnya melaksanakan rekomendasi Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Jawa Timur untuk melakukan penghitungan suara ulang (PSU) di 60 dari 163 kelurahan di 26 kecamatan. Langkah tersebut diambil menyusul adanya indikasi kekeliruan dalam rekapitulasi suara.

“Rekomendasi Bawaslu Provinsi yang mengacu pada rekomenasi Bawaslu Kota Surabaya, sudah kami tindak lanjuti. Kebetulan proses rekapitulasi di tingkat PPK (Kecamatan) masih berlangsung, sehingga sekaligus melakukan pembetulan kekeliruan pengisian pada formulir C1,” ujar Ketua KPU Kota Surabaya, Nur Syamsi, yang dikonfirmasi, Rabu (24/4/2019).

Lebih lanjut Syamsi mengungkapkan, bahwa pihaknya juga minta penjelasan Bawaslu terkait rekomendasi PSU. Dalam rekomendasi itu, KPU harus melakukan perbaikan atau penghitungan ulang bilamana terjadi kesalahan. Menurut dia, tanpa rekomendasi Bawaslu pun, pengecekan suara sudah berjalan di KPU Surabaya. Apalagi saat ini di tingkat PPK masih digelar rekapitulasi perolehan suara. “Kita pastikan perbaikan salah tulis dan salah penjumlahan, terus dilakukan pada proses rekapitulasi berjalan, dengan dilakukan pengawasan oleh pengawas pemilu, panwascam dan saksi peserta pemilu,” katanya.

Sebagaimana diberitakan, Bawaslu Jatim merekomendasikan melalui surat No.436/K.JI-38/PM.05.02/IV/2019 tentang Rekapitulasi Ulang di PPK dan Penghitungan Suara Ulang untuk TPS. Namun, PSU tidak dilakukan di seluruh kota sebanyak 31 kecamatan dan 163 kelurahan sebagaimana rekomendasi Bawaslu Surabaya. Melainkan hanya di 60 kelurahan pada 26 kecamatan, sesuai hasil pengawasan dari internal KPU.

Cek Kesehatan
Sementara itu, Polrestabes Surabaya menurunkan Tim Kedokteran dan Kesehatan (Tim Dokkes) untuk memeriksa kesehatan para petugas yang sedang merekapitulasi surat suara di PPK kecamatan. Mulai dari anggota polisi, jajaran KPU, Bawaslu hingga linmas serta para saksi mendapatkan pemeriksaan gratis. Polrestabes Surabaya menurunkan tim dokkes, dan membawa seluruh perlengkapan kesehatan. Mulai dari alat tensi hingga obat-obatan dan multivitamin.

Menurut Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Rudi Setiawan melalui Kasubag Humas Polrestabes Surabaya, Kompol Rety Husin, tadi siang dikemukakan, bahwa sejak, Selasa (23/4/2019) kemarin Tim Dokkes, Polrestabes Surabaya juga membagikan vitamin untuk menjaga daya tahan tubuh para petugas dari kelelahan saat rekapitulasi data di tingkat PPK. Bukan hanya anggota polisi yang mengamankan proses rekapitulasi suara saja yang dilayani, tetapi juga memeriksa kesehatan jajaran KPU, Bawaslu dan Linmas bahkan para saksi dari parpol.

“Diharapkan dengan adanya tim kesehatan, para petugas bisa lebih fit dalam menjalani aktivitasnya dalam proses Pemilu 2019,” ujar Rety sambil menyatakan, sudah ratusan petugas yang terlibat kegiatan Pemilu 2019 di Kota Surabaya yang mendapatkan pelayanan kesehatan gratis dari Tim Dokkes Polrestabes Surabaya.

Petugas Pemilu Pingsan di Lamongan
Sementara itu sedikitnya empat petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di Kecamatan Sukodadi, Kabupaten Lamongan, Jatim, mendadak pingsan saat bertugas. Mereka pingsan setelah empat hari bekerja ekstra keras, mulai dari persiapan hingga rekapitulasi suara, Rabu (24/4/2019) tadi pagi.

Menurut Ketua PPK Sukodadi M Fauzan, kondisi paling parah dialami Ketua KPPS TPS-06 Desa Balun, Kecamatan Sukodadi, bernama Anas Ubaidillah. Dia harus menjalani opname di Puskesmas Sukodadi karena kondisinya cukup parah sejak Sabtu (20/4/2019) malam. Sementara tiga petugas lainnya menjalani rawat jalan. “Jadi selain ketua KPPS/TPS-nya, dua anggotanya juga ikut jatuh pingsan termasuk seorang petugas Linmas. Untuk ketiganya sudah boleh pulang dan kini menjalani rawat jalan,” ujar M Fauzan, Rabu.

Fauzan menambahkan, keempat orang petugas TPS itu jatuh karena fisiknya menurun. Mereka sejak pracoblosan hingga penghitungan suara di kecamatan emat hari itu, hanya istirahat sebentar. “Mereka bisa dibilang tidak sempat istirahat tidur. Ya mereka itu terlibat sejak mulai setting TPS, pemungutan suara hingga rekapitulasi di kecamatan. Sampai Rabu pagi tadi, kondisi Anas belum stabil dan harus menjalani perawatan lanjutan,” ujar Fauzan. Atas kondisi tersebut, pihaknya terus berkoordinasi dengan dokter Puskesmas guna memastikan yang bersangkutan mendapatkan perawatan maksimal. 



Sumber: Suara Pembaruan