Tim Gabungan Janji Bakal Beberkan Temuan Kasus Teror Novel

Tim Gabungan Janji Bakal Beberkan Temuan Kasus Teror Novel
Mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Indonesia melakukan aksi solidaritas pada Peringatan dua tahun kasus kekerasan terhadap Novel Baswedan di depan gedung KPK, Jakarta, Kamis (11/4/2019). Dalam aksinya mahasiswa lintas universitas tersebut menyatakan dukungannya terhadap KPK agar pemerintah segera mengungkap aktor dibalik kasus kekerasan terhadap penyidik KPK Novel Baswedan dan menolak segala bentuk pelemahan terhadap KPK. ( Foto: ANTARA FOTO / Indrianto Eko Suwarso )
Fana Suparman / WM Rabu, 24 April 2019 | 23:17 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com -  Kapolri Jenderal Tito Karnavian telah membentuk tim gabungan untuk mengungkap kasus teror terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan sejak 8 Januari 2019 silam. Tim gabungan ini berjumlah 65 anggota yang terdiri dari sejumlah unsur seperti Polri, KPK, berbagai ahli, dan tokoh masyarakat.

Sejumlah ahli yang dilibatkan dalam tim tersebut, di antaranya peneliti LIPI Hermawan Sulistyo, Ketua Umum Ikatan Sarjana Hukum Indonesia Amzulian Rivai, Ketua Setara Institute Hendardi, Komisioner Kompolnas Poengky Indarti, Komisioner Komnas HAM periode 2012-2017 Nur Kholis.

Setelah bekerja selama sekitar empat bulan, tim gabungan ini bertemu dengan pimpinan KPK, Rabu (24/4/2019). Usai pertemuan tersebut, tim gabungan berjanji akan menyampaikan laporan mengenai temuan-temuan mereka kepada publik setidaknya sebelum masa tugas mereka berakhir pada Juli mendatang.

"Kami akan memberikan report kami, final report untuk akhir bulan ini atau bulan Mei. Nanti untuk kawan-kawan bisa menggali lebih lanjut dan selanjutnya untuk akhir masa tugas kami pada bulan Juli akan bisa kawan kawan sapatkan hasil lengkapnya," kata Poengky usai bertemu pimpinan KPK, di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (24/4/2019).

Poengky masih enggan mengungkapkan gambaran temuan yang didapatkan tim. Namun, Poengky meyakinkan, tim ini dibentuk dengan harapan dapat mengungkap peneror Novel.

"Kita berharap bisa seperti itu (menemukan pelaku). Nanti kita lihat saja seperti apa," katanya.

Untuk mencapai harapan tersebut, tim masih mengumpulkan potongan-potongan fakta terkait teror yang terjadi pada 11 April 2017 lalu itu. Termasuk dengan memeriksa saksi-saksi yang telah diperiksa pihak kepolisian sebelumnya ataupun saksi-saksi baru.

"Ini mulai mengumpulkan lagi, artinya kita membuka, me-review, lalu melihat ada loop hole yang belum dijangkau itu kita jangkau. Kita periksa saksi-saksi baru, kita periksa saksi-saksi lama," katanya.

Dalam kesempatan ini, Hendardi mengaku belum dapat membeberkan temuan-temuan yang diperoleh tim sejauh ini lantaran berisiko terhadap perkembangan investigasi. Namun, Hendardi memastikan, pihaknya akan mendalami dan mencermati setiap informasi yang berkaitan dengan kasus ini. Termasuk informasi adanya dugaan keterlibatan jenderal polisi.

"Kalau yang seperti itu (nama jenderal), masuk saja. Tetap mendengar juga masukan kepada tim saya. Kita tidak menutup informasi apapun. Mau jenderal, kopral, masuk materi," katanya.

Dalam pertemuan dengan pimpinan KPK hari ini, tim gabungan melaporkan mengenai perkembangan investigasi kasus teror terhadap Novel yang telah mereka kerjakan. Sejauh ini, tim gabungan telah melakukan reka ulang TKP, dan memeriksa saksi-saksi. Selain itu, tim gabungan juga telah melakukan uji alibi terhadap saksi-saksi di sejumlah daerah, yakni Malang, Ambon, dan Bekasi. Uji alibi itu dilakukan untuk memastikan saksi yang sebelumnya terduga pelaku benar-benar berada di ketiga daerah itu saat peristiwa teror terhadap Novel terjadi.

"Kami memeriksa saksi-saksi, baik saksi lama maupun baru. Lalu pemeriksaan tambahan, pemeriksaan ulang dan memeriksa saksi ahli, serta uji alibi terhadap saksi," papar Hendardi.

Izin

Dalam kesempatan ini, tim gabungan juga meminta izin kepada pimpinan KPK untuk meminta keterangan Novel sebagai saksi korban. Hendardi mengaku, pimpinan KPK yang diwakili Saut Situmorang dan Laode M Syarif memberikan izin kepada tim untuk meminta keterangan Novel.

"Kami berharap kepada saksi korban, Novel Baswedan, kami bisa melakukan pembicaraan atau katakanlah penyelidikan, investigasi apa yang beliau ketahui dan itu saya kira mendapat lampu hijau dari pimpinan KPK," katanya.

Tak hanya Novel, tim juga berharap dapat meminta keterangan pegawai KPK lainnya yang memiliki informasi mengenai kasus teror ini. Dengan demikian, kasus ini dapat semakin terang dan pelaku teror segera terungkap.

Diketahui, Novel diteror dengan disiram air keras oleh dua orang tak dikenal pada 11 April 2017 lalu. Akibatnya, Novel harus mendapat perawatan intensif di salah satu rumah sakit di Singapura karena kedua matanya mengalami luka parah. Setelah menjalani serangkaian tindakan medis, termasuk operasi, Novel diizinkan tim dokter untuk kembali ke tanah air dan menjalani rawat jalan.

Di sisi lain, pihak kepolisian yang menangani kasus ini belum juga berhasil mengungkap dan menangkap pelaku maupun otak di balik teror terhadap Novel. Setelah hampir dua tahun menangani kasus ini, pihak kepolisian hanya mampu menggambar sketsa dua orang terduga pelaku. Tim gabungan yang dibentuk Kapolri, Jenderal Tito Karnavian pada 8 Januari 2019 pun tak membuahkan hasil hingga saat ini.



Sumber: Suara Pembaruan