Soal Hoax, Ratna Nilai Tidak Terjadi Keonaran

Soal Hoax, Ratna Nilai Tidak Terjadi Keonaran
Ratna Sarumpaet Terdakwa kasus dugaan penyebaran berita bohong atau hoaks didampingi penasehat hukumnya saat mengikuti sidang lanjutan di PN Jakarta Selatan, Selasa 23 April 2019. ( Foto: ANTARA FOTO / Reno Esnir )
Bayu Marhaenjati / YUD Kamis, 25 April 2019 | 21:20 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Terdakwa Ratna Sarumpaet, menilai tidak ada keonaran yang terjadi akibat kebohongan yang diproduksinya. Hal itu disampaikan Ratna seusai persidangan kasus penyebaran berita bohong atau hoax, di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (25/4/2019).

"Iya (tidak membuat keonaran), apa menurut kamu, keonaran di mana, di mana yang gaduh, siapa yang gaduh. Kalau di Twitter memang selalu gaduh kan, mana Twitter yang nggak pernah gaduh," ujar Ratna, Kamis (25/4).

Menanggapi keterangan saksi ahli pidana Dr Metty Rahmawati Argo yang menyatakan keonaran masuk dalam delik pidana, Ratna menegaskan, keonaran yang terjadi di mana.

"Keonarannya di mana, persoalnya orang harus tunjukan keonarannya di mana, siapa yang melalukan. Kalau kita mengatakan yang di Twitter keonaran, diketawain dunia, nggak mungkin itu keonaran," ungkap Ratna.

Terkait dengan pernyataan ahli bahwa Pasal 14 ayat 1 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1947 tentang Peraturan Pidana yang diterapkan dalam dakwaan dianggap masih berlaku dan relevan, Ratna menuturkan, keonarannya harus dibuktikan terlebih dulu.

"Keonarannya nggak ada kok relevan sih, bagaimana membuktikan ada keonaran. Itu kan pertanyaan yang penting. Kalau dia sudah bilang memenuhi harus ada keonarannya, ya mana keonarannya," kata Ratna.

Ratna mengatakan, poin pentingnya adalah apakah terjadi keonaran akibat kebohongan yang diproduksinya. Kalau memang ada, dirinya layak dibui.

"Kenapa harus ngotot ke situ, kan keonarannya saja nggak terjadi. Kan itu poinnya, terjadi nggak keonaran itu. Kalau terjadi keonaran itu, ya saya pikir saya layak di penjara," tandasnya.



Sumber: BeritaSatu.com