Wali Kota Palu Imbau Warga Bersedia Direlokasi

Wali Kota Palu Imbau Warga Bersedia Direlokasi
Wali Kota Palu Hidayat (kiri) bersama Wali Kota Onagawa Yoshiaki Suda (tengah) dalam pertemuan di Onagawa, Jepang, 25 April 2019. ( Foto: Beritasatu / Heru Andriyanto )
Heru Andriyanto / HA Kamis, 25 April 2019 | 23:54 WIB

Miyagi, Beritasatu,com - Wali Kota Palu Hidayat meminta warga terdampak tsunami dan gempa bumi September 2018 agar bersedia dipindahkan demi mempercepat proses rekonstruksi dan menjamin keselamatan mereka sendiri terhadap ancaman bencana serupa di masa mendatang.

Di sela kunjungannya ke Miyagi, Jepang, Kamis (25/4/2019), Hidayat mengatakan bahwa wilayah yang terkena tsunami tahun lalu sudah terbukti tidak aman untuk dihuni.

"Wakil Presiden Jusuf Kalla pun sudah menginstruksikan agar area sampai 500 meter dari bibir pantai bebas dari hunian warga," kata Hidayat kepada Beritasatu.com.

Hidayat berada di Jepang untuk ikut mempelajari proses penanganan pasca-bencana di sejumlah kota yang juga dilanda gempa bumi dahsyat dan tsunami pada 11 Maret 2011.

Dia hadir bersama para pejabat Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Kementerian Kelautan dan Perikanan, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, dan pakar konstruksi Indonesia.

Hidayat juga meminta Bappenas dan Japan International Cooperation Agency (JICA) yang banyak membantu proses rekonstruksi di Palu untuk memetakan area rawan bencana.

"Untuk memberi pengertian kepada masyarakat sehingga mereka bersedia dipindahkan," ujarnya.

Hidayat menjelaskan sudah membagikan formulir kepada 5.000 keluarga untuk meminta kesediaan mereka direlokasi.

"Yang kembali hanya 800 formulir, 400 bersedia pindah, 400 menolak," paparnya.

Kamis ini, Hidayat dan rombongan sudah berkunjung ke kota Ishinomaki dan Onagawa, dua wilayah yang rusak parah akibat gempa dan tsunami 2011.

Pemda setempat sudah melakukan sejumlah upaya rekonstruksi seperti membangun ulang tanggul, meninggikan jalan raya dan rel kereta, serta yang paling penting merelokasi warga dari bibir pantai.

Di Onagawa, Hidayat bertemu langsung dengan Wali Kota Yoshiaki Suda dan bertukar pikiran tentang cara-cara melakukan rekonstruksi pasca-bencana. Menurut Suda, Onagawa butuh waktu delapan tahun untuk kembali menjadi kota yang normal setelah tsunami.

Dia juga berbagi pengalaman dengan Hidayat tentang proses merelokasi warga di wilayah bencana, yang ternyata juga bukan hal yang mudah dilakukan.

Baca juga: Rekonstruksi Sulteng, Belajar dari Pengalaman Jepang

Menurut Hidayat, ada sejumlah hal yang cocok diterapkan di Palu, ada juga yang perlu dikaji lagi. Menurutnya, keberadaan tanggul di pantai Palu ternyata tidak efektif menahan gelombang tsunami karena terlalu pendek dan juga dampak likuefaksi yang membuat tanggul itu rubuh.

"Di kota Palu ada tanggul sepanjang 7,2 kilometer, tetapi amblas. Panjang pantai di Palu 42 kilometer, ada yang terkena tsunami ada yang tidak," ujarnya.

Satu hal yang menurutnya sangat penting diketahui selama berada di Jepang adalah fakta bahwa proses rekonstruksi memang butuh waktu lama dari pembersihan lokasi, pembangunan ulang infrastruktur, sampai relokasi warga.

Simak penuturan Hidayat lebih lanjut dalam video berikut:



Sumber: BeritaSatu.com