Prevalensi Penderita Kanker di Yogyakarta Capai 4,1 Persen Secara Nasional

Prevalensi Penderita Kanker di Yogyakarta Capai 4,1 Persen Secara Nasional
Konsultan Senior Hematologi PCC Singapura, Dr Colin Phipps Diong saat memberikan paparan mengenai kanker darah di Hotel JW Marriott Yogyakarta, Kamis, 25 April 2019. ( Foto: Suara Pembaruan / Fuska Sani Evani )
Fuska Sani Evani / JEM Jumat, 26 April 2019 | 14:48 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Prevalensi penderita kanker di Indonesia pada tahun 2018 mencapai 1,4 persen penduduk dengan total 347.792 pasien dan Yogyakarta menempati urutan tertinggi dengan prevalensi penderita kanker sebesar 4,1 persen dengan total 14.596 orang.

Berdasar pemaparan Tim Parkway Cancer Center (PCC) Singapura, hasil dari survei Globocan 2018 menyebutkan, kanker darah menempati urutan ke-9 dalam jumlah kasus kanker terbesar di Indonesia.

Diuraikan Konsultan Senior Hematologi PCC Singapura, Dr Colin Phipps Diong, dalam banyak kasus, pasien terlambat mengetahui bahwa mereka menderita kanker darah, dan dokter seringkali menemukan indikasi kanker darah secara tidak sengaja, ketika pasien menjalani pemeriksaan penyakit lain.

Dalam diskusi dengan media di Hotel JW Marriott Yogyakarta, Kamis (25/4/2019), Colin Phipps mengatakan, kurangnya pemahaman tentang kanker darah dan gejalanya, serta kebutuhan untuk melakukan pemeriksaan medis rutin termasuk memeriksa jumlah darah lengkap, memicu tingginya pasien kanker darah stadium tinggi.

“Memang, kanker darah bisa sangat sulit dideteksi dan dapat didiagnosis pada pasien tanpa gejala apa pun, tetapi ini mungkin tidak selalu demikian," ujarnya.

Pada beberapa pasien memiliki gejala demam jangka panjang, cepat lelah, keringat berlebihan pada malam hari, penurunan berat badan yang signifikan, hingga pembengkakan kelenjar getah bening,

Lanjutnya, saat ini perawatan yang paling efektif untuk kanker darah adalah transplantasi sumsum tulang atau dikenal sebagai transplantasi sel induk alogenik.

Pasien dapat memperoleh sel punca dari donor yang tidak berhubungan, atau bahkan mendapatkan sel punca hemotopoetic (HSC) dari darah tali pusat yang disimpan di bank darah tali pusat.

Ditambahkan Manajer dan Ahli Diet Senior PCC Singapura, Fahma Sunarja, penelitian telah menunjukkan bahwa pendekatan tim multi-disiplin mengarah ke hasil pengobatan terbaik pada pasien kanker.

Untuk menentukan perawatan yang optimal setiap pasien, PCC mengambil pendekatan multi-disiplin yang melibatkan kolaborasi berbagai spesialis medis untuk memberikan diagnosis yang cepat dan akurat bagi pasien.

“Melalui keahlian kolektif para ahli onkologi dan tim multidisiplin profesional paramedis, kami berdedikasi untuk membantu pasien,” terangnya.

Masih dari survei Globocan 2018, kanker darah menempati urutan ke 9 dalam jumlah kasus kanker terbesar di Indonesia. Leukemia adalah salah satu kanker cair yang terkandung dalam darah yang menyerang sekitar 1.213 orang dengan tingkat 40 persen pasien adalah anak-anak.

Apakah kanker darah diturunkan secara genetis? Ternyata tidak. Meskipun tidak ada riwayat dalam keluarganya yang menderita kanker, siapa saja mungkin menderita kanker darah.

Leukemia tidak sama dengan kanker darah, tetapi merupakan salah satu jenis kanker darah. Selain leukemia, ada dua jenis kanker darah yakni limfoma dan mieloma.

Keduanya, merujuk pada kanker yang mempengaruhi produksi dan fungsi sel darah. Dalam kebanyakan kasus, proses pengembangan sel darah normal terganggu oleh pertumbuhan yang tidak terkontrol dari tipe abnormal, atau kanker, sel darah.

Leukemia adalah suatu bentuk kanker yang mempengaruhi sel-sel darah putih tubuh, dan disebabkan oleh produksi cepat sel-sel darah putih abnormal. Limfoma mempengaruhi kelenjar getah bening dan sistem limfatik yang menghilangkan kelebihan cairan dari tubuh Anda dan menghasilkan sel-sel kekebalan. Sedang myeloma mempengaruhi sumsum tulang dan dapat berkembang di setiap bagian tubuh yang memiliki sumsum tulang seperti panggul dan tulang belakang.

Karena dapat terjadi di beberapa tempat dalam tubuh pada saat yang bersamaan, ia juga disebut multiple myeloma.
Dalam kasus Ani Yudhoyono, dia telah menerima donor sumsum tulang belakang dari adiknya Pramono Edhie Wibowo untuk mengobati kanker darah yang dideritanya. Namun, proses transplantasi sumsum tulang masih menunggu waktu yang tepat.



Sumber: Suara Pembaruan