"Julangtaka", Jembatan Inovatif Kempupera Diresmikan

Jembatan Gantung untuk Desa Asimetris "Julangtaka" di Desa Muaracikadu Kabupaten Cianjur Provinsi Jawa Barat. ( Foto: istimewa )
Iman Rahman Cahyadi / CAH Minggu, 28 April 2019 | 15:24 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pusat Penelitian Jalan dan Jembatan (Pusjatan), Badan Litbang Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kempupera) terus berinovasi dalam pengembangan infrastruktur. Kali ini, Pusjatan melakukan inovasi teknologi jembatan gantung sederhana yang disebut Jembatan Gantung untuk Desa Asimetris (Judesa).

"Judesa merupakan salah satu solusi untuk menjawab kebutuhan aksesibilitas masyarakat pedesaan pada kondisi geografis wilayah Indonesia yang terdiri dari pegunungan, lembah dan sungai. Di beberapa daerah pedesaan, kondisi geografis tersebut menjadi pemisah antara lokasi tempat tinggal penduduk dan lokasi fasilitas masyarakat seperti sekolah, pasar, dan fasilitas kesehatan," ujar Humas Pusjatan Balitbang Kempupera dalam siaran pers, Minggu (28/4/2019).

Sehingga diperlukan infrastruktur yang salah satunya berupa jembatan untuk mempermudah warga mengakses lokasi-lokasi fasilitas pelayanan masyarakat dan juga mempermudah pendistribusian sumber daya baik barang maupun jasa.

Pusjatan menginisiasi teknologi Judesa sejak tahun 2014 dan telah menyelesaikan pembangunan prototipe secara swakelola untuk bentang 40 m ber-pylon tunggal pada tahun 2015 yang dibangun di Desa Cihawuk - Desa Cibereum, kecamatan Kertasari Kabupaten Bandung Jawa Barat.

Kemudian pada tahun 2017 telah dilaksanakan pembangunan prototipe Judesa untuk bentang yang lebih panjang yaitu bentang 62 m di Nusa Tenggara Timur.

Setelah itu giliran pada tahun 2018 dibangun prototipe jembatan asimetris ganda untuk bentang 122 m yang berlokasi di Desa Muaracikadu Kabupaten Cianjur Provinsi Jawa Barat.

Jembatan ini diresmikan pada, Jumat (26/4) kemarin dengan nama jembatan “Julangtaka” yang memiliki dua makna yaitu sebagai penghubung dua lokasi dusun yaitu “Cijulang dan Bantaka”. Makna lainnya yaitu dari kata Julangtaka yang memiliki arti ketulusan yang tinggi.

Pembangunan pilot project Judesa di Desa Muaracikadu Kabupaten Cianjur ini menghubungkan Dusun Cijulang dan Dusun Bantaka yang dipisahkan oleh sungai Cisadeai. Sebelum adanya jembatan ini, akses antar dusun tersebut dilakukan dengan menggunakan rakit. Apabila terjadi banjir atau muka air sungai naik maka akses antar dusun tersebut terputus.

"Teknologi Judesa memanfaatkan material jembatan prafabrikasi, dengan sistem komponen modular untuk bangunan atas khususnya pylon dan sistem lantai jembatan yang fleksibel. Selain metoda konstruksi yang menggunakan sistem pembangunan satu arah atau dari satu sisi, yaitu dengan konsep flying fox, dengan memanfaatkan tali dan kabel utama untuk menyeberangkan material jembatan, sehingga dapat dilakukan proses perakitan konstruksi jembatan dengan lebih mudah dan efisien," jelas Pusjatan Kempupera.

Selain itu dari segi keamanan, berbeda dengan sistem kabel penggantung utama pada tipe asimetris tunggal, dimana hanya satu untaian kabel utama yang dijadikan tumpuan penggantung lantai jembatan, maka Judesa tipe asimetris ganda ini didukung oleh dua sistem kabel asimetris yang semi independen, dimana jika pada salah satu sisi asimetris kabel utamanya terputus maka kabel utama pada sisi lainnya masih tetap berdiri.

Untaian kabel utama tipe jembatan asimetris ganda yang bersilangan memberikan kekakuan untuk pergerakan arah melintang jembatan selain digunakannya sistem modul lantai berlubang (orthotopic expanded plate) yang juga memberi ketahanan terhadap beban angin dari samping jembatan.

Peresmian ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Plt. Kepala Badan Litbang dan pengguntingan pita bersama sama Plt. Bupati Cianjur, Direktur Jembatan Ditjen Bina Marga, beserta jajaran pejabat di lingkungan Badan Litbang, Direktorat Jembatan Ditjen Bina Marga dan Pemerintah Daerah Kabupaten Cianjur.

"Diharapkan dengan dibangunnya Judesa di Desa Muaracikadu ini, pemerintah daerah dan masyarakat setempat dapat memelihara dan menggunakan jembatan dengan baik, sehingga akan memiliki masa pelayanan yang lama dan aman untuk digunakan oleh lalu lintas, baik pejalan kaki, sepeda maupun sepeda motor, dalam rangka memudahkan warga untuk mengakses fasilitas pendidikan, pasar dan kesehatan serta menjadi pendukung pengembangan ekonomi daerah," tambah Pusjatan Kempupera.



Sumber: BeritaSatu.com