Menpora Imam Nahrawi Akui Gunakan Anggaran Kempora untuk Umrah

Menpora Imam Nahrawi Akui Gunakan Anggaran Kempora untuk Umrah
Menpora Imam Nahrawi menjadi saksi dalam sidang kasus dugaan suap dana hibah KONI dengan terdakwa Sekjen KONI Ending Fuad Hamidy di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin, 29 April 2019.. ( Foto: ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan )
Fana Suparman / CAH Selasa, 30 April 2019 | 08:17 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi mengakui melakukan ibadah umrah bersama rombongannya dengan menggunakan anggaran Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kempora). Pengakuan itu disampaikan Imam saat bersaksi dalam sidang perkara dugaan suap pengurusan dana hibah dari pemerintah kepada KONI melalui Kempora dengan terdakwa Sekjen KONI Ending Fuad Hamidy dan Bendahara KONI Johny E Awuy di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (29/4).

Jaksa mulanya bertanya mengenai kegiatan Imam bersama rombongan Kempora di Jedah pada tahun 2018 lalu. Imam mengaku perjalanan dinas itu dalam agenda menghadiri undangan dari federasi paralayang dunia di Jedah. Lantaran kegiatan kerja dilakukan di Arab Saudi, Imam dan rombongannya memanfaatkan waktu untuk menunaikan ibadah umrah.

"Saya diundang federasi paralayang Asia dan pemuda di Jedah. Tentu siapapun muslim yang sampai Jedah harus laksanakan ibadah umrah," kata Imam di persidangan.

Perjalanan itu terjadi sekitar bulan Oktober 2018. Untuk perjalanan dinas itu menpora menjelaskan, dibiayai menggunakan anggaran Kempora. Pendanaan perjalanan dinas untuk Menpora dibiayai oleh Sekretariat Kemenpora. Namun untuk sejumlah deputi dan delegasi deputi yang ikut, kata Imam Nahrawi, menggunakan anggaran biaya oleh masing-masing kedeputian.

"Kalau saya menggunakan anggaran Sekretariat Kemenpora sedangkan untuk keberangkatan deputi menggunakan anggaran kedeputian masing-masing," ungkap Imam Nahrawi.

"Apa umrah ada di anggaran Kemenpora?" tanya jaksa penuntut umum (JPU) KPK Budi Agung Nugroho kepada Imam.

"Tidak," jawab Imam Nahrawi.

"Tapi berangkat pakai anggaran Kemenpora?" tanya jaksa Budi.

"Iya," jawab Imam Nahrawi.

Sebelumnya, Deputi VI Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kempora, Mulyana yang juga dihadirkan sebagai saksi dalam persidangan kali ini membenarkan agenda tersebut. Mulyana yang juga telah dijerat dalam perkara ini, mengubah salah satu keterangan yang disampaikannya dalam berita acara pemeriksaan (BAP). Perubahan itu mengenai permintaan uang Rp 2 miliar untuk biaya umrah menteri dan rombongan dari Kempora.

"Jadi, uang Rp 2 miliar itu bukan untuk umrah, tapi bantuan pekan olahraga taruna nasional Polisi di Semarang," kata Mulyana saat dikonfirmasi oleh jaksa KPK.

Dalam BAP, Mulyana mengaku pernah diminta uang Rp 2 miliar oleh Miftahul Ulum yang merupakan asisten pribadi Imam Nahrawi. Saat itu, ada kegiatan umrah yang dilakukan Menpora Imam Nahrawi, istri menteri dan sejumlah pejabat dan staf Kemenpora.

Kegiatan umrah itu memanfaatkan undangan federasi paralayang di Arab Saudi. Saat itu, Kempora mengirimkan peserta bidding olahraga paralayang.

Permintaan uang itu disampaikan Ulum kepada Oyong yang merupakan bendahara pembantu di Kempora. Dalam BAP, menurut Mulyana, permintaan uang itu ditujukan kepadanya.

Diketahui, Jaksa KPK mendakwa Sekjen KONI Ending Fuad Hamidy dan Bendahara Umum KONI Jhonny E Awuy telah menyuap Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga Mulyana, PPK Kempora Adhi Purnomo dan staf Kempora Eko Triyanto dengan mobil merk Fortuner dan uang ratusan juta.

Suap ini diberikan dua petinggi KONI tersebut untuk mempercepat proses persetujuan dan pencairan dana hiba‎h dari pemerintah melalui Kempora kepada KONI.

Jaksa menyatakan, Ending dan Jhonny memberikan satu unit Toyota Fortuner hitam dan uang Rp 300 juta kepada Mulyana. Selain itu, keduanya juga memberikan kartu ATM debit BNI dengan saldo Rp 100 juta dan ponsel merek Samsung Galaxy Note 9 kepada Mulyana.

Jaksa menyatakan, pemberian hadiah berupa uang dan barang itu diduga bertujuan agar Mulyana, Adhi Purnomo dan Eko Triyanto membantu mempercepat proses persetujuan dan pencairan dana hibah dari pemerintah kepada KONI melalui Kempora.



Sumber: Suara Pembaruan