Penerbit Diminta Perhatikan Konten dan Kualitas Buku Bacaan

Penerbit Diminta Perhatikan Konten dan Kualitas Buku Bacaan
Anak-anak membaca buku di mobil baca di Komplek DHI, Kelurahan Kapuk Muara, Jakarta Utara pada Sabtu 24 Februari 2018. (Foto: Beritasatu Photo / SP/Carlos Roy Fajarta Barus)
Maria Fatima Bona / EAS Selasa, 30 April 2019 | 15:23 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Pendidikan Masyarakat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Harris Iskandar, mengatakan literasi tidak hanya sekadar bebas buta aksara saja. Hal yang lebih penting dari itu adalah upaya bangsa memiliki kemampuan hidup melampaui bangsa lain.

Oleh karena itu, Harris menyebutkan, peran penerbit buku sangat penting dalam menumbuhkan minat baca anak. Dijelaskan dia, rendahnya minat baca anak yang dialami bangsa Indonesia, salah satu permasalahannya karena jumlah buku bermutu masih terbatas.

Pasalnya, baca buku sama halnya menonton film jika bagus maka banyak yang tertarik.

"Minat baca rendah itu karena buku tidak ada. Sastra atau novel tidak ada. Padahal kalau bukunya bagus seperti Harry Potter tentu anak akan membaca 500 lembar dalam dua atau tiga hari,” kata Harris pada diskusi Gerakan Literasi Masyarakat dan Keluarga di Gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Jakarta, Senin (29/4/2019) petang.

Harris menambahkan, selain memperhatikan konten buku, Kemdikbud juga mengkampanyekan gerakan literasi nasional (GLN) mendorong peran serta orangtua dan sekolah.

Khusus untuk orangtua, harus menjadi teladan bagi anak. Orangtua harus membiasakan anak membaca atau memperkenalkan anak pada bacaan sejak anak usia 0-5 tahun.

Untuk itu, Kemdikbud melalui Direktorat Pembinaan Keluarga juga memberi pembinaan kepada orangtua, agar sejak dini anak dibiasakan dan diperkenalkan dengan buku. Dalam hal ini, orangtua membacakan anak cerita sebelum tidur dan mencontohkan kepada anak untuk selalu membaca buku di waktu senggang.

Khusus untuk anak PAUD maupun SD, Harris menuturkan, telah ada peraturan yang mengatur jenis buku bacaan yang diberikan kepada anak.

"Untuk anak PAUD, tentu peran orangtua sangat penting. Harus menjadi contoh pra- literasi. Orangtua wajib membacakan anak buku sebelum tidur sehingga anak lebih siap dan terbiasa untuk membaca buku,” ujarnya.

Regulasi
Sementara itu, Wakil Ketua Umum Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) bidang Pameran dan Minat Baca, Amalia Bakti Safitri mengatakan, setelah adanya perubahan regulasi, buku anak saat ini memiliki konten yang baik.

Hal ini terbukti dari hasil penjual copywriter beberapa tahun ini yang masih didominasi oleh buku anak, novel, dan buku agama Islam. Ini menunjukkan buku anak Indonesia diakui dunia,” ujar Chairperson of Indonesia International BookFair (IIBF) ini.

Meski begitu, Amalia menuturkan, IKAPI terus mendorong penerbit untuk meningkatkan kualitas dan konten buku anak, agar buku yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan dan memiliki dampak pada perkembangan anak.

“IKAPI juga mengadakan pelatihan pembuatan buku anak dan kerja sama dengan beberapa pelatihan semacam memberikan edukasi kepada penerbit agar membuat buku anak dengan baik dan benar sehingga semua informasi yang akan disampaikan kepada anak sesuai dengan kemampuan anak. Jadi pemilihan bahasa yang mudah dipahami anak sangat penting,” terangnya.

Amalia juga menjelaskan, respons penerbit untuk buku anak tidak sebanyak jenis bacaan lain karena terkendala regulasi.

Pasalnya, sebelumnya, pemerintah hanya mengalokasikan dana pembelian buku mata pelajaran. Dengan begitu, sekolah hanya menganggarkan dana untuk pembelian buku paket penunjang kegiatan belajar mengajar (KBM) di kelas. Sedangkan buku bacaan lainnya tidak dianggarkan.

Namun, adanya regulasi baru dan hadirnya gerakan literasi nasional melalui kebijakan siswa wajib membaca 15 menit sebelum pelajaran mengembalikan semangat penerbit menerbitkan buku anak.



Sumber: BeritaSatu.com