NII Crisis Center: Waspadai Gerakan Radikal

NII Crisis Center: Waspadai Gerakan Radikal
Ilustrasi ( Foto: Istimewa )
Yeremia Sukoyo / YUD Rabu, 1 Mei 2019 | 16:14 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center, Ken Setiawan mengingatkan adanya gerakan yang mengatasnamakan NKRI dan NU yang berpaham khilafah dan anti terhadap Pancasila.

NKRI dan NU yang dimaksud bukanlah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Nahdlatul Ulama. Akan tetapi merupakan metamorfosa dari Negara Khilafah Rasyidah Islamiyah dan Nahdlatul Umat. Kedua-duanya adalah organisasi radikal.

Saat ini, kelompok tersebut sudah tersebar di pelosok negeri. Banyak masyarakat yang terjebak dengan istilah mereka tersebut dan kelompok tersebut cukup masif mengadakan perekrutan di kalangan pelajar, mahasiswa, kalangan buruh dan kalangan umum.

"Ada salah satu kampus di Pekanbaru yang sudah ada jemaahnya sekitar 80 mahasiswa dalam jaringan NKRI ini," kata Ken Setiawan, di Jakarta, Rabu (1/4/2019).

Menurutnya, pola perekrutan dan pendekatan kelompok itu dengan membenturkan kondisi hari ini yang menurut mereka tidak sesuai dengan hukum Islam. Diketahui, kelompok itu fahamnya anti demokrasi dan menganggap bukan dari Allah, tapi aturan manusia yang lebih berpihak kepada penguasa saja.

"Jadi dalam perekrutan mereka mencoba memprovokasi masyarakat supaya benci terhadap pemerintah," ucap Ken mengingatkan.

Dikatakan, masyarakat penganut faham NKRI dan NU itu juga menganggap khilafah merupakan janji Allah dan Rasulullah. Sedangkan demokrasi merupakan kondisi yang sangat berseberangan dengannya.

Lebih jauh, dijelaskan, dalam memprovokasi calon korban mereka selalu mengatakan kalau demokrasi hanya akan membuat rakyat tertindas karena hukum Pancasila hanya seperti pisau yang bermata dua yang tumpul keatas dan runcing ke bawah.

Hukum demokrasi Indonesia menurutnya tidak akan melukai orang kaya dan bermodal. Namun hukum demokrasi di Indonesia hanya akan berlaku bagi masyarakat kecil saja.

"Bahkan ulama menurut mereka di persekusi, Ormas Islam HTI dibubarkan, pemimpin ingkar janji dan banyak lagi polemik yang terjadi. Intinya tidak berpihak pada rakyat," ungkapnya.

Mereka pun menganggap satu-satunya solusi adakah NKRI atau Negara Khilafah Rasyidah Islamiyah dan NU Nahdlatul Umat. Bila tidak mau Hijrah ke NKRI, maka Ibadah seseorang tidak akan diterima karena dianggap belum beriman.

"Mereka sangat yakin akan mampu mengulingkan sistim demokrasi Indonesia dengan segala cara karena bagi para jemaahnya merupakan sebuah kewajiban memperjuangkan tegaknya Khilafah," katanya.

Dalam kesempatan itu Ken juga mengingatkan, kelompok NKRI dan NU menjadikan jemaahnya menjadi militan. Caranya adalah dengan menciptakan lawan dan lawan mereka adalah sistem demokrasi Pancasila.

"Ibarat mau berkelahi kalau tidak punya lawan maka tidak greget, jadi mereka berusaha menjelekan, sejelek apa yang ada di dalam sistem dekokrasi Pancasila semua salah. Kalau perlu dengan berita hoax juga tidak apa apa, sebab dalam kondisi perang boleh bersiasat dalam menghadapi musuh di peperangan," ucapnya.

Menurut Ken, mereka juga menggunakan konsep Negara Khilafah sebab tidak bisa meruntuhkan sistem atau merubah sebuah sistem negara kalau lewat ormas atau LSM misal NU atau Muhamadiyah. Negara harus lawan negara. Karena itu kelompok tersebut mengunakan Negara Khilafah Rasyidah Islamiyyah untuk meruntuhkan sistem demokrasi Pancasila.

"Mereka sudah menabuh genderang perang untuk kita semua, saatnya waspada, mereka menganggap kita yang berseberangan ideologi sebagai musuh, jadi kalau kita tidak waspada akan menjadi hal yang sangat berbahaya," ujarnya.



Sumber: Suara Pembaruan