Jelang Ramadan, Penjual Bunga Tabur Raup Untung

Jelang Ramadan, Penjual Bunga Tabur Raup Untung
Ziarah kubur. ( Foto: Antara )
/ YUD Minggu, 5 Mei 2019 | 17:22 WIB

Makassar, Beritasatu.com - Para penjual bunga tabur di berbagai tempat pemakaman di Kota Makassar, Sulawesi Selatan kebanjiran untung menjelang bulan Ramadan karena masyarakat menjalani tradisi ziarah kubur menjelang Bulan Suci Ramadan.

Seorang penjual bunga di pemakaman Islam Dadi Makassar, Daeng Ngintang, di Makassar, Minggu, mengaku omzetnya bertambah hingga 15 kali lipat daripada hari-hari biasa. Pada hari biasa, omzetnya Rp 50.000 per hari, sedangkan sepekan terakhir Rp 600.000 sampai Rp 800.000.

"Sudah tiga hari ini pemasukan Rp 800.000, tidak tahu bagaimana sebentar karena ini hari terakhir dan besok (6/5) kita sudah puasa," ujarnya saat ditemui di pemakaman Islam Dadi di Jalan Onta Lama Makassar, Sulawesi Selatan.

Modal daun pandan, kata Daeng Ngintang, Rp 100.000 per ikat diambil dari Kabupaten Gowa. Setiap ikat bisa dijual lebih dari Rp 200 ribu sehingga keuntungan yang diperoleh bisa 100 persen.

Bunga berupa daun pandan dibungkus kantong plastik berukuran kecil dijajakan Rp 5.000, ada juga bunga warna-warni menggunakan tempat parsel ditawarkan Rp 20.000, ditambah air dalam botol Rp 3.000.

"Harganya tidak menentu, karena ada juga yang menawar sampai lima ribu dua kantong bunga. Banyak juga yang bawa bunga dari rumah. Tapi kita bersyukur karena banyak pengunjung," katanya.

Daeng Ngintang mengatakan penjual bunga hanya sekitar 10 orang di luar Ramadhan atau hari-hari biasa, tetapi penjualan bunga meningkat drastis dua pekan sebelum Ramadhan.

"Biasanya kita hanya 10 orang penjual tetap, tetapi sekarang bisa sampai 40 orang. Yah namanya ada momen. Apalagi ini hanya tiga kali setahun. Kalau Idul Adha tidak sebanyak Bulan Ramadan," kata ibu enam anak itu.

Ia mengaku menjual bunga tabur sejak 20 tahun lalu. Dirinya beserta kelima saudaranya hidup dari mengais rezeki dengan menjajakan bunga tabur. Ayahnya telah puluhan tahun menjadi penjaga pemakaman Islam, sedangkan ibunya menghabiskan waktu menjadi penjual bunga tabur.

Pekerjaan itu menurun kepada Daeng Ngintang bersama beberapa saudaranya dan anak-anaknya. Keenam anaknya pun mengais rezeki di sekitar pemakaman menjadi penjual bunga, ada juga menjadi tukang parkir.

Penjual bunga tabur lainnya, Suraedah, juga mengatakan penjualan mencapai 1.000 an kantong bunga pada hari libur, 1 Mei lalu.

"Penjual bunga di sini hampir merata pendapatannya hari libur kemarin, dan tiga hari ini sudah banyak yang datang," katanya.



Sumber: ANTARA