Perhatian Serius Pemerintah Terhadap Pendidikan Vokasi

Perhatian Serius Pemerintah Terhadap Pendidikan Vokasi
Puan Maharani. ( Foto: Antara )
Carlos KY Paath / FER Senin, 6 Mei 2019 | 21:13 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pemerintah menginginkan agar sekolah atau lembaga vokasi disatukan menjadi satu wadah. Pasalnya, pendidikan vokasi terkesan tercecer di sejumlah kementerian dan lembaga. Rapat tertutup digelar oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk membahas pendidikan vokasi.

"Mulai sekarang kita akan evaluasi kembali bagaimana manfaat dan bagaimana kebutuhannya terkait dengan peningkatan sumber daya manusia (SDM). Ternyata hampir setiap kementerian, lembaga punya (program vokasi)," kata Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani, di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (6/5/2019).

Puan mengungkapkan, semua kementerian diminta untuk memberikan gambaran terkait dengan kebutuhan pendidikan vokasi. "Begitu juga untuk direvisi kembali apakah anggarannya masih kurang," ungkap Puan.

Menurut Puan, pemerintah berkomitmen mewujudkan keseimbangan pendidikan vokasi antarsektor. Namun, pemerintah akan terlebih dahulu memetakan kebutuhan tenaga kerja. Contohnya, apabila fokusnya pariwisata, maka target SDM tentu berkompetensi di perhotelan maupun restoran. Demikian halnya juga yang berkaitan dengan sektor industri.

"Berapa tenaga kerja yang nantinya dibutuhkan industri. Nantinya, kami akan bukan hanya mengirim training ke luar negeri, tetapi juga diharapkan tenaga trainingnya dari luar negeri bisa didatangkan ke indonesia," ujar Puan.

Puan menuturkan, nantinya akan ada satu komite atau badan yang tengah dikaji. "Sudah dirapatkan, sudah didiskusikan. Akan ada satu komite yang nantinya akan menangani semua hal terkait dengan vokasi," imbuh Puan.

Mengenai kebutuhan anggaran pembentuan lembaga, Puan menyatakan, pemerintah mengutamakan prinsip efisiensi.

"Yang penting desainnya dulu harus matang. Kemudian kita bicarakan ini semua terkait dengan APBN dan RKP yang akan dibahas ke DPR," pungkas Puan.



Sumber: Suara Pembaruan