Kemdikbud: UNBK Cocok untuk Milenial yang Hobi Gunakan Gawai

Kemdikbud: UNBK Cocok untuk Milenial yang Hobi Gunakan Gawai
Ujian nasional berbasis komputer yang diikuti siswa SMA. ( Foto: Antara )
Maria Fatima Bona / IDS Rabu, 8 Mei 2019 | 12:19 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), Bambang Suryadi mengatakan, pelaksanaan ujian nasional berbasis komputer (UNBK) yang semakin banyak pesertanya ini dilakukan sesuai dengan karakter siswa-siswi milenial yang lebih suka menggunakan gawai. Peningkatan jumlah peserta UNBK tahun ini menunjukkan pelaksanaan UNBK menjadi pilihan di masa mendatang.

"Dengan begitu, pelaksanaan UNBK akan menjadi mainstream karena lebih transparan, efisien dan efektif, serta murah biayanya," tutur Bambang di Jakarta, Selasa (7/5/2019).

Selain itu, lanjutnya, UNBK juga menurunkan intensitas stres yang dialami Kepala Sekolah jika dibandingkan dengan UNpensil kertas (UNPK). Pasalnya, kendala seperti kekurangan dan kebocoran soal tidak akan terjadi lagi.

Sementara itu, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Kabalitbang) Kemdikbud, Totok Suprayitno mengatakan, ada sesuatu yang baru pada pelaksanaan ujian nasional (UN) tahun ini. Selain mengerjakan soal UN, mereka juga diberi angket untuk menggali informasi non-kognitif siswa. Diharapkan, informasi dari angket tersebut akan memberikan analisa yang komprehensif mengenai faktor-faktor yang dapat mempengaruhi capaian siswa.

Totok menuturkan, angket untuk tahun pertama ini hanya dirancang untuk peserta UNBK. Secara umum hasil angket tersebut menunjukkan hubungan yang kuat antara kondisi sosial ekonomi dengan capaian UN. Artinya, kondisi sosial ekonomi yang baik cenderung memiliki capaian UN yang lebih baik.

“Selama ini kita hanya menguji aspek kognitif siswa, tanpa ada evaluasi aspek nonkognitif siswa. Padahal ini adalah background untuk bagaimana kita dapat mengetahui kesiapan dan kemampuan siswa pada saat UN. Anak yang kurang bisa mengerjakan UN belum tentu ia bodoh. Mungkin ada faktor lain seperti sosial dan ekonomi yang mempengaruhinya,” kata Totok.

Dari angket yang diberikan kepada peserta UN terlihat bahwa anak-anak yang terbiasa menggunakan gawai dan membaca informasi dari gawai cenderung memiliki prestasi lebih bagus. Maka Totok berharap UNBK tidak hanya menjadi sekadar tes melainkan bisa memicu pembelajaran di aspek kehidupan yang lain juga. Oleh karena itu, ia mendorong pemerintah daerah (pemda) agar sekolah dapat melaksanakan UNBK 100%, baik itu secara mandiri atau sharing.



Sumber: Suara Pembaruan