Kemdikbud: Siswa Terbaik Tidak Tertarik Menjadi Guru

Kemdikbud: Siswa Terbaik Tidak Tertarik Menjadi Guru
Guru Sekolah Inklusi dan Sekolah Luar Biasa (SLB) mengikuti petalihan bahasa isyarat di Banyuwangi, Jawa Timur, Jumat (9/11/2018). Pelatihan tersebut bertujuan untuk mensosialisasikan bahasa isyarat Indonesia (Bisindo) yang merupakan bahasa berkembang secara alami dikelompok masyarakat tuli Indonesia. ( Foto: Antara / Budi Candra Setya )
/ FMB Rabu, 8 Mei 2019 | 16:58 WIB

Jakarta, Beritasatu.com- Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Toto Suprayitno mengatakan siswa yang ingin menjadi guru memiliki capaian hasil Ujian Nasional (UN) lebih rendah dari siswa lain.

"Siswa yang memiliki nilai UN tinggi, rata-rata ingin menjadi pengusaha," ujar Totok di Jakarta, Rabu (8/5/2019).

Hal tersebut berdasarkan hasil angket yang diberikan Kemdikbud usai pelaksanaan UN SMA sederajat. Dari hasil angket tersebut, sebanyak 11 persen siswa bercita-cita menjadi guru. Dari angka 11 persen itu, sebanyak 80 persennya merupakan siswa perempuan.

Totok menambahkan secara umum, nilai UN siswa yang ingin menjadi guru lebih rendah dibandingkan siswa yang memilih profesi lainnya sebagai cita-cita dan peminat profesi guru perempuan, nilai UN-nya lebih tinggi dari siswa laki-laki.

"Ini menjadi pekerjaan rumah kita semua, mengapa siswa terbaik tidak tertarik menjadi guru," ujar dia.

Padahal dengan banyaknya siswa yang terbaik yang menjadi guru, diharapkan kualitas pendidikan di Tanah Air semakin meningkat. Menurut dia, perlu upaya stimulus agar siswa yang memiliki nilai tinggi mau menjadi guru.

Hasil angket UN 2019 juga menyebutkan sebanyak 19 persen responden angket yang memiliki capaian UN tinggi merupakan siswa yang berasal dari latar belakang keluarga dengan ekonomi kurang menguntungkan atau ekonomi lemah.

"Anak-anak yang dalam kehidupan sehari-hari serba kekurangan, setelah kita cek, ternyata nilai mereka tinggi. Belajar dalam kondisi kekurangan ternyata bisa berprestasi baik. Ini luar biasa. Anak dengan resilience atau ketahanmalangan," ujar Totok.

Ia menjelaskan bahwa penyebaran angket itu dilakukan bertujuan untuk menggali informasi non-kognitif agar diperoleh analisis menyeluruh mengenai faktor-faktor yang memengaruhi capaian siswa. Ada lima jenis angket yang dapat dikerjakan oleh siswa seusai mengerjakan UN. Namun, setiap siswa hanya perlu mengerjakan satu jenis paket saja. Pertanyaan di dalam angket terkait indikator sosial-ekonomi, seperti pekerjaan dan pendidikan orang tua serta kepemilikan barang. Selain itu, digali juga persepsi siswa dalam mengenali bakat dan keunggulan diri, serta cita-cita (aspirasi) siswa.



Sumber: ANTARA