Terduga Teroris Bekasi Pernah Juara Nasional Karate

Terduga Teroris Bekasi Pernah Juara Nasional Karate
Tim Gegena (Jibom) Polri membawa satu kardus berisi bahan-bahan pembuat bom dari toko Wanky Cell, Bekasi Kota, Kamis siang, 9 Mei 2019. ( Foto: Suara Pembaruan/Mikael Niman )
Farouk Arnaz / BW Kamis, 9 Mei 2019 | 14:32 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Kelompok yang menurut polisi sebagai bagian dari Jamaah Ansharut Daulah (JAD) di Bekasi diduga telah merekrut orang, termasuk seorang juara karate nasional, untuk melakukan serangan. Kelompok itu dipimpin oleh EY, yang ditangkap Densus/88 Antiteror di SPBU Kalimalang, Rabu (8/5/2019) kemarin.

Pemilik toko aksesoris ponsel dan komputer Wanky Cell di Bekasi Utara ini mempunyai uang, keahlian merakit bom, dan merekrut anak buah. Salah orang yang berhasil dia rekrut, adalah YN, yang merupakan karateka.

”Makanya dia dibaiat sebagai amir JAD Bekasi dengan media sosial. Dia mengendalikan kegiatan JAD Bekasi karena dianggap punya kemampuan ekonomi, termasuk kemampuan merekrut YN alias Kautsar (18). Ini memprihatinkan karena YN ini baru lulus SMA pada 2018,” kata Karo Penmas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri Kamis (9/5/2019).

YN, masih kata Dedi, sebenarnya bukan tanpa masa depan. Dia punya catatan prestasi karate tingkat nasional karena pernah jadi juara dalam kejurnas karate di Bali dan Kalimantan Selatan. YN kemudian dilatih EY merakit bom. Ini terbukti dari penemuan barang bukti bersamanya seperti laptop dan catatan termasuk cara memicu bom dengan remote control.

“Kita sayangkan anak muda terpapar pemahaman radikal. Sasaran mereka amaliah terhadap aparat kepolisian yang sudah 20 tahun dianggap menghalangi mereka karena melakukan penegakan hukum. Mereka juga akan melakukan serangan pada aksi massa jelang 22 Mei,” sambungnya.

Mereka menganggap aksi people power adalah momentum untuk melakukan serangan. Jika serangan itu terjadi, maka ini akan dapat dua sisi, yakni akan menimbulkan korban sekaligus menciptakan suasana chaos atau huru-hara.

“Itu desain mereka jika di Jakarta ada kerusuhan maka akan merembet ke daerah, dan jika itu terjadi, maka sleeping cell mereka akan bangkit. Di Suriah dan Malawi juga seperti itu. Kita terus mapping keberadaan mereka,” sambungnya.



Sumber: BeritaSatu.com