Soal KPPS Meninggal, Kemkes Kembali Tegaskan Tidak Ada Kematian Misterius

Soal KPPS Meninggal, Kemkes Kembali Tegaskan Tidak Ada Kematian Misterius
Petugas KPPS di Pekanbaru, Riau bernama Hazairin (55) meninggal akibat kelelahan dan sakit.
Dina Manafe / JAS Rabu, 15 Mei 2019 | 16:10 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kementerian Kesehatan (Kemkes) kembali menegaskan, tidak ada kematian petugas pelaksanaan pemilu atau petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) secara tidak wajar atau misterius. Hasil investigasi yang dilaporkan dari 24 provinsi kepada Kemkes semuanya meninggal secara wajar.

Hal ini ditegaskan Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Kemkes, Bambang Wibowo, dalam keterangan tertulis yang diterima Beritasatu.com di Jakarta, Rabu (15/5/2019). Sebelumnya, Direktur Pelayanan Kesehatan Rujukan Kemkes, dr Tri Hesty Widyastoeti Marwotosoeko juga mengatakan hal serupa di Kantor Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia, Senin (13/5/2019).

“Sebanyak 498 petugas Pemilu 2019 meninggal dengan wajar. Tidak ada kematian yang tidak wajar,” kata Bambang.

Menurut Bambang, masyarakat harus percaya kepada dokter atau tenaga kesehatan di lapangan yang sudah bekerja dengan sungguh-sungguh dalam memberikan pelayanan saat penyelenggaraan pemilu 2019. Tenaga kesehatan inilah yang menurut Bambang, bisa menentukan apa penyebab kematian tersebut dan kemudian kematian ini wajar atau tidak.

Hasil dari kerja tenaga kesehatan tersebut dilaporkan semua kematian petugas pemilu adalah wajar. Artinya semua kematian yang terjadi ada alasan yang jelas alias tidak misterius.

“Karena kalau dari sisi medis kalau tidak wajar petugas kesehatan harus lapor ke kepolisian untuk dilakukan tindak lanjut, artinya selama ini tidak ada yang dilaporkan untuk tindak lanjut,” katanya.

Menurut Bambang, meninggalnya petugas pemilu 2019 ini bisa dipicu oleh kelelahan. Artinya ada stressor yang bisa memperberat kondisi petugas pemilu sehingga meninggal. Selain kelelahan, ada faktor psikis yang menyebabkan pemicu penyakit yang diderita petugas. Ada pula penyakit penyerta yang mungkin sudah diderita korban tapi belum diketahui sebelumnya atau yang sudah diketahui seblumnya.

Terkait penyebab kematian ini, sebelumnya Sekretaris Jenderal Kemkes, Oscar Primadi, mengatakan, kelelahan dapat memicu kematian petugas pemilu, mengingat sebelumnya mereka telah mengidap penyakit tertentu sebagai faktor risiko.

Misalnya, seorang petugas yang meninggal memiliki penyakit jantung. Seharusnya dengan faktor risiko penyakit tersebut, orang ini tidak boleh terlalu lelah. Namun, saat bertugas, ia dituntut untuk menyelesaikan pekerjaan dengan cepat dan tepat. Inilah yang memperberat kondisi jantungnya.

Dari seluruh laporan yang masuk ke Kemkes menunjukkan bahwa meninggalnya petugas pemilu bukan karena kelelahan, melainkan kelelahan menjadi pemicu atau pemberat penyakit yang telah diidap oleh petugas menjadi semakin parah.

“Kita melihat beberapa provinsi yang sudah kita dapatkan datanya kita melihatnya tidak ada hal yang berhubungan langsung (dengan kelelahan), tapi berkaitan dengan penyakit bawaan yang diderita petugas, di mana kelelahan menjadi trigger,” kata Oscar. 



Sumber: Suara Pembaruan