300 Kg Ganja Disimpan di Balik Tumpukan Limbah Medis

300 Kg Ganja Disimpan di Balik Tumpukan Limbah Medis
BNN menyita 10 karung plastik berisi ganja kering seberat 300 kilogram yang disembunyikan di antara karung limbah medis B3, Kamis (16/5/2019). ( Foto: istimewa )
Bayu Marhaenjati / BW Kamis, 16 Mei 2019 | 15:57 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Badan Narkotika Nasional (BNN) menggagalkan peredaran narkotika jenis ganja asal Aceh seberat 300 kilogram. BNN juga menangkap tiga pengedarnya, di Cilegon, Banten. Barang bukti ganja kering itu disembunyikan di antara tumpukan karung limbah medis.

"Penyelundupan itu dari Aceh melalui jalur darat dengan tujuan ke Cilegon, Banten. Ada tiga orang tersangka yang diamankan yaitu, DH, M, dan J," ujar Deputi Pemberantasan BNN Irjen Pol Arman Depari melalui keterangan tertulisnya kepada Beritasatu.com, Kamis (16/5/2019).

Dikatakan Arman, pengungkapan kasus ini bermula dari pengembangan penangkapan dua tersangka dengan barang bukti 500 kilogram ganja, di Depok, Jawa Barat, Senin (6/5/2019) lalu.

"Setelah melakukan penyelidikan, BNN berhasil menangkap tersangka DH, di sebuah hotel, di Cilegon, Banten. Petugas selanjutnya menggeledah mobil boks, dan ditemukan 10 karung plastik berisi ganja kering seberat 300 kilogram. Ganja tersebut disembunyikan di antara karung limbah medis B3," ungkap Arman.

Arman menyampaikan, berdasarkan keterangan DH, barang itu akan diserahkan kepada tersangka M dan J, di depan hotel.

"Setelah dilakukan serah terima barang, petugas kemudian mengamankan tersangka M dan J. Seluruh tersangka dan barang bukti dibawa ke kantor BNN untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut," kata Arman.

Menurut Arman, menyembunyikan ganja kering di antara karung limbah medis B3, merupakan modus baru para pengedar. Tujuannya untuk menghilangkan bau agar tidak tercium anjing pelacak (K9), dan mengelabui petugas.

"Modus ini hampir sama dengan pengungkapan sebelumnya (di Depok), kotak kayu disemprot dengan cat untuk menghilangkan bau dan mengelabui petugas," tandasnya.

Akibat perbuatannya, para tersangka dikenakan Pasal 114 ayat (2) Junto Pasal 132 ayat (1) dan Pasal 111 ayat (2) Junto Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, dengan ancaman maksimal hukuman mati atau penjara seumur hidup.



Sumber: BeritaSatu.com