Polisi Yakin Bachtiar Nasir Kembali ke Indonesia

Polisi Yakin Bachtiar Nasir Kembali ke Indonesia
Bachtiar Nasir. ( Foto: Antara )
Farouk Arnaz / JAS Kamis, 16 Mei 2019 | 17:46 WIB

Jakarta, Beritastau.com - Mabes Polri masih yakin eks Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI) Bachtiar Nasir akan pulang ke Tanah Air, meski telah ditetapkan sebagai tersangka kasus pencucian uang. 

“Sampai saat ini belum, tetapi tunggu saja lah. Saya kira UBN (Ustaz Bachtiar Nasir) pemuka agama yang insyaallah dia paham betul tentang prinsip-prinsip warga negara, prinsip negara hukum,” kata Kadiv Humas Polri Irjen M Iqbal di Mabes Polri, Kamis (16/5/2019).

Iqbal berharap kontestasi pemilu ini tidak akan mencederai simbol ketokohan masing masing. “Kalau dipanggil aparat pasti akan datang. Alhamdulillah kemarin Pak Kivlan (Zen) datang,” sambungnya.

Seperti diberitakan Nasir tak juga datang dalam panggilan ketiga. Dalam kasus ini selain Nasir juga ada tersangka lain yaitu AA dan IA.

Kasus ini terkait dengan pengalihan harta Yayasan Keadilan Untuk Semua (YKUS) yang didirikan sejak 2014 dengan tujuan mengumpulkan uang masyarakat untuk kepentingan agama, sosial, dan kemasyarakatan.

Dalam yayasan—sesuai UU-ada organ dan harta yayasan. Organ terdiri dari pembina dan pengurus terdiri dari Ketua Umum Adnin Armas (AA), sekretaris Tri, bendahara Suwono dan dibawahnya ada pengawas Moein Hidaya

Sesuai UU Yayasan, seluruh pengelolaan harta yayasan harus seizin organ yayasan dan tidak boleh berdiri sendiri. Faktanya Adnin memberikan surat kuasa kepada Nasir membuka rekening atas nama yayasan untuk mengumpulkan uang dari masyarakat.

Saat itu terkumpul sekitar Rp 2,139 miliar. Jadi ada dua rekening. Pertama rekening yayasan yang dijadikan penampung dana masyarakat. Lalu rekening baru—juga atas nama yayasan—untuk mengalihkan dana tapi rekening bari ini tanpa sepengetahuan organ yayasan.

Maka diambillah Rp 2,1 M di sebuah bank syariah oleh M. Di bank tersebut sebenarnya ada aturan kalau penarikan dalam jumlah di atas Rp 1 miliar maka wajib diambil di bank tempat rekening itu dibuka. Tidak boleh mengambil di cabang lain.

Di sinilah ada peran IA, mantan pegawai bank, yang masuk untuk mempermulus pencairan tersebut. IA tidak taat SOP sesuai UU Bank Syariah. IA lalu menyerahkan uang itu kepada M yang tugasnya hanya membayar semua kebutuhan Nasir.

Makanya Nasir selain dikenakan selain pasal 372, juga pasal pencucian uang. Polisi telah memeriksa saksi ahli yayasan dan saksi ahli pidana.



Sumber: BeritaSatu.com