Geledah Kantor Daya Radar Utama, Ketua KPK Pastikan Telah Tetapkan Tersangka

Geledah Kantor Daya Radar Utama, Ketua KPK Pastikan Telah Tetapkan Tersangka
Agus Rahardjo. ( Foto: Antara )
Fana Suparman / JAS Jumat, 17 Mei 2019 | 21:45 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggeledah kantor PT Daya Radar Utama di Jalan RE Martadinata, Jakarta Utara, Jumat (17/5/2019). Penggeledahan ini terkait dengan penanganan suatu perkara korupsi.

Ketua KPK, Agus Rahardjo memastikan pihaknya telah meningkatkan perkara tersebut ke tahap penyidikan, dan menetapkan tersangka. Menurutnya, penggeledahan yang dilakukan KPK dipastikan terkait dengan sebuah perkara di tahap penyidikan. Sementara saat meningkatkan suatu perkara ke tahap penyidikan diiringi dengan penetapan tersangka.

"Biasanya kalau ada penggeledahan itu terkait dengan pasti ada penyidikan karena kalau sudah upaya paksa," kata Agus usai menghadiri Buka Puasa Bersama di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (17/5).

Meski demikian, Agus masih enggan membeberkan kasus korupsi yang sedang ditangani pihaknya terkait penggeledahan kantor PT Daya Radar Utama. Agus memastikan pihaknya akan segera menyampaikan informasi kasus tersebut secara rinci.

"Kita tunggu saja. Nanti kan pasti kan selalu setiap tahapan kalau begitu kita mengeluarkan Sprindik selalu diumumkan terbuka," katanya.

Berdasarkan informasi, penggeledahan yang dilakukan tim penyidik KPK di kantor Daya Radar Utama itu terkait dengan kasus dugaan korupsi pengadaan atau pembelian 16 kapal cepat patr‎oli di lembaga yang terkait kepabeanan. Diduga proyek itu merugikan keuangan negara sekitar Rp 100 miliar lebih.

Dalam kasus ini, KPK telah menetapkan tiga tersangka. Salah satunya merupakan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pengadaan kapal di lembaga tersebut, dan satu orang lainnya merupakan petinggi PT Daya Radar Utama. Perusahaan tersebut bergerak di bidang galangan kapal yang membangun dan memperbaiki berbagai macam kapal dari bahan baja, aluminium alloy, dan fiberglass reinforced plastic.



Sumber: Suara Pembaruan