Lestarikan Hutan Batang Toru, NSHE Siap Kerja Sama dengan Semua Pihak

Lestarikan Hutan Batang Toru, NSHE Siap Kerja Sama dengan Semua Pihak
Pelestarian keanekaragaman hayati di Batang Toru. ( Foto: Istimewa )
Nurjoni / AB Jumat, 17 Mei 2019 | 17:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) yang mengerjakan proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Batang Toru siap bekerja sama dengan semua pihak yang peduli dengan kelestarian hutan Batang Toru. Salah satu kekayaan hutan Batang Toru yang akan dilestarikan adalah orangutan.

“Kami siap berkerja sama dengan semua pihak, termasuk pemerintah dan lembaga-lembaga yang concern terhadap hutan Batang Toru,” kata Communication and External Affairs Director PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) Firman Taufick kepada Beritasatu.com, belum lama ini.

Untuk memantau pergerakan orangutan, NSHE menggunakan 55 kamera. Selain itu, NSHE juga sedang menyiapkan kamera yang bisa mendeteksi pergerakan orangutan dari suhu tubuhnya dan sewaktu-waktu menggunakan kamera drone.

"Jika mendapat izin dari pihak berwenang maka akan kami lakukan,” ujar Firman.

Senior Advisor Lingkungan PT NSHE Agus Djoko Ismanto menambahkan, kegiatan pembangunan PLTA Batang Toru yang berada di lahan APL tidak dalam habitat utama orangutan, sehingga tidak mengganggu keberadaan orangutan. Sejumlah sarang orangutan yang ditemukan di wilayah PLTA adalah sarang lama.

“Orangutan biasanya hidup di wilayah pegunungan dengan ketinggian di atas 600 meter dari permukaan laut. Mereka lebih nyaman dengan suhu dingin. Sedangkan PLTA ada di ketinggian 430 meter dari permukaan laut,” ujarnya.

Orangutan selalu bergerak dengan daerah jelajah 800-3.000 hektare. Dengan wilayah kawasan utama yang mencapai 163.000 hektare, orangutan cukup mendapatkan kebutuhan makanan.

Firman menjelaskan, dari total 163.000 hektare luas hutan Batang Toru, NSHE hanya mengantongi izin seluas 6.598 hektare yang ditujukan untuk eksplorasi, survei, dan perencanaan. Dari jumlah itu, hanya 669 hektare yang digunakan untuk proyek PLTA. Sedangkan dari total 669 hektare, itu pun hanya 122 ha atau 0,07% dari total luas ekosistem Batang Toru yang akan didirikan bangunan permanen.

Setelah mendapatkan izin APL, lanjutnya, pada 2008 pihaknya melakukan studi kelayakan (feasibility study) dan eksplorasi.

“Kemudian kami menentukan titik-titik untuk lokasi bendungan dan pembangkit. Sejak tahun 2017 dilakukan prakonstruksi yang dikerjakan oleh Sinohydro selaku kontraktor. Tahun 2022 diharapkan sudah bisa beroperasi (commercial operation date/COD),” jelas Firman.

Perjanjian jual beli tenaga listrik atau power purchase agreement (PPA) PLTA Batang Toru berkapasitas 510 MW (4x127,5 MW) telah ditandatangani pada 16 Desember 2015, disaksikan Presiden Joko Widodo.

“Nilai investasinya sebesar US$ 1,6 miliar,” ujar Firman.

PLTA Batang Toru juga memperhitungkan risiko gempa dengan menggunakan standar International Commissions on Large Dams (ICOLD). Pembangunan PLTA hanya bisa dilaksanakan setelah mendapat izin dari Indonesian Dam Safety Commission (IDSC) di bawah kendali Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

 



Sumber: Investor Daily