Kasus Korupsi Blok BMG

Karen Sebut Dakwaan JPU Terbantahkan

Karen Sebut Dakwaan JPU Terbantahkan
Karen Agustiawan. ( Foto: Antara )
Feriawan Hidayat / FER Jumat, 17 Mei 2019 | 22:31 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Mantan Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Karen Agustiawan, menjalani sidang pemeriksaan terdakwa atas kasus korupsi investasi di Blok Baskar Manta Gummy (BMG), Australia 2009. Sidang digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kamis (16/5/2019).

Karen menegaskan, selama persidangan Jaksa Penuntut Umum (JPU) tidak dapat membuktikan dugaan kasus korupsi pada saat melakukan investasi tersebut.

"Telah dibuktikan dakwaan-dakwaan sudah patah. Misalnya dakwaan yang menyatakan akuisisi tidak melalui kajian atau kajian diabaikan. Padahal, kemarin berdasarkan keterangan saksi dan dokumen yang ada telah dibuktikan seluruh temuan dari hasil kajian telah dimasukkan ke dalam perjanjian," kata Karen dalam keterangan pers yang diterima Beritasatu.com, Jumat (17/5/2019).

Karen menjelaskan, untuk akuisisi blok BMG sudah ada persetujuan dari komisaris PT Pertamina. Menurut dia, komisaris sudah bertindak diluar ketentuan internal Pertamina dengan mengeluarkan surat persetujuan dan pada saat direksi sudah menandatangani surat persetujuan, tiba-tiba komisaris menyatakan keberatan.

Menurut Karen, perbedaan pendapat antara komisaris dan direksi itu seharusnya sudah tidak menjadi persoalan. Hal ini, karena pada akhirnya pemegang saham yaitu menteri BUMN sudah memberikan pembebasan tanggungjawab.

"Jadi, yang lucu ketika pemegang saham atau yang mempunyai rumah tangga sudah bilang oke, eh sembilan tahun kemudian ada warga tetangga datang dan ngomel-ngomel," kata Karen.

Direktur Utama Pertamina periode 2009-2014 itu mengungkapkan, pada periode kepemimpinannya, PT Pertamina mendapatkan keuntungan. Sehingga, dia mempertanyakan, dakwaan jaksa yang menyebutkannya merugikan negara.

Karen menegaskan, pada bisnis hulu dan migas (migas) terdapat untung dan rugi. Dia menilai, untung dan rugi di dalam bisnis itu merupakan hal yang biasa dan termasuk dalam risiko bisnis.

"Bisnis pasti ada untung ada rugi. Pertamina pada zaman saya tidak pernah mengalami kerugian. Malah kian meningkat dari tahun ke tahun. Kecuali ada yang menerima uang suap, oke, merugikan negara. Orang sampai sekarang dalam dakwaan maupun persidangan tidak ada pembicaran masalah aliran uang yang diterima para tersangka. Jadi dimana korupsinya?" tanya Karen.

Atas dasar itu, Karen berharap kepada JPU dan majelis hakim agar dapat membuat keputusan yang seadil-adilnya. "Saya hanya berharap baik JPU dalam membuat tuntutan maupun majelis yang saya muliakan dalam menentukan putusan dapat dibersihkan hatinya sehingga apapun yang dilakukan sesuai fakta persidangan," tandas Karen.



Sumber: BeritaSatu.com