Orangutan Tapanuli Spesies Unik

Orangutan Tapanuli Spesies Unik
Orangutan Tapanuli. ( Foto: Istimewa )
Nurjoni / AB Jumat, 17 Mei 2019 | 17:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Orangutan Tapanuli merupakan spesies yang unik. Meski memiliki lokasi yang berdekatan dengan orangutan Sumatera, tetapi berdasarkan analisis genetika, satwa tersebut justru memiliki hubungan kekerabatan yang lebih dekat dengan orangutan Kalimantan.

Berdasarkan informasi yang dikumpulkan Investor Daily, secara fisik, orangutan Tapanuli sebelumnya dianggap sebagai populasi orangutan paling selatan dari orangutan Sumatera, atau Pongo abelii. Namun, berdasarkan penelitian secara mendalam oleh kelompok peneliti Indonesia dan mancanegara dalam bidang genetika, morfologi, ekologi, dan perilaku, ternyata orangutan Tapanuli secara taksonomi malah lebih dekat dengan orangutan Kalimantan, Pongo pygmaeus, sehingga harus dipisahkan menjadi spesies tersendiri. Penelitian juga mengindikasikan bahwa orangutan Tapanuli merupakan moyang dari ketiga kera besar ini.

Perbedaan fisik antara orangutan Tapanuli dan kedua jenis yang lain adalah tengkorak dan tulang rahang orangutan Tapanuli lebih halus daripada orangutan Sumatera dan orangutan Kalimantan, serta bulunya lebih tebal dan keriting. Orangutan Tapanuli jantan memiliki kumis dan jenggot yang menonjol dengan bantalan pipi berbentuk datar yang dipenuhi oleh rambut halus berwarna pirang.

Saat Investor Daily berkesempatan menelusuri jejak-jejak orangutan Tapanuli di hutan Batang Toru dekat Dusun Sitandiang, Desa Bulu Mario, Kecamatan Sipirok, beberapa waktu lalu, memang tidak ditemukan satu pun sosok orangutan. Meski sudah sekitar dua kilometer melangkah ke dalam kawasan hutan, yang ditemukan hanyalah sejumlah sarang yang sudah ditinggalkan orangutan.

Sarang-sarang di pucuk pohon yang mencapai ketinggian 15-20 meter itu sudah mengering karena dibuat oleh orangutan saat musim buah. Kebetulan, saat itu tidak sedang musim buah. Buah durian (Durio zibethinus) merupakan salah satu makanan favorit Orangutan Tapanuli, sehingga banyak orangutan yang turun ke lahan masyarakat ketika musim buah durian.

Orangutan bisa mengonsumsi 20-30 durian dalam sehari dan tinggal beberapa hari sampai buah durian hampir habis. Durian yang dikonsumsi oleh orangutan bukan hanya durian yang sudah masak, tetapi yang masih mentah pun tetap dikonsumsi. Namun, rata-rata hanya sebagian saja buah durian yang mereka makan dan sisanya dijatukan ke tanah.

Hasil penelitian Balai Litbang LHK Aek Nauli selama 15 tahun mengidentifikasi lebih dari 127 jenis pakan orangutan Tapanuli. Menurut Peneliti Utama Balai Litbang Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Aek Nauli, Wanda Kuswanda, orangutan sangat membutuhkan variasi jenis tumbuhan pakan untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya. Tumbuhan pakan alami yang banyak dikonsumsi orangutan Tapanuli, di antaranya gala-gala (Ficus racemosa), medang nangka (Elaeocarpus obtusus), beringin (Ficus benjamina), hoteng (Quercus maingayi), teurep (Artocarpus elasticus), motung (Ficus toxicaria), asam hing (Dracontomelon dao) dan dongdong (Ficus fistulosa).

Selain durian, orangutan juga memakan petai, jengkol, aren, rotan, karet, dan kopi yang sama-sama dikonsumsi/dibudidayakan manusia.



Sumber: Investor Daily