Pemimpin di Era 4.0 Perlu Visi dan Berkarakter

Pemimpin di Era 4.0 Perlu Visi dan Berkarakter
CEO of Siloam Hospital Group Caroline Riady berbagi pengalamannya dalam berkarier dan menjadi pemimpin di Siloam Hospital Group saat Seminar ‘Leadership 4.0 Strategy’ yang digelar oleh Ikatan Alumni UPH, Jakarta, Jumat 17 Mei 2019. Seminar ini untuk membuka wawasan dan menginspirasi masyarakat, para profesional muda, alumni serta mahasiswa untuk dapat menjadi pemimpin dan pelaku industri di era digital. ( Foto: BeritaSatu Photo / Emral Firdiansyah )
Ari Supriyanti Rikin / EAS Sabtu, 18 Mei 2019 | 08:53 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Menjadi pemimpin di era 4.0 saat ini tidak bisa dengan cara instan. Seorang pemimpin harus punya tujuan dan visi yang akan dicapainya. Perkembangan teknologi di era 4.0 juga hendaknya dijadikan peluang untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik lagi.

Hal itu disampaikan CEO of Siloam Hospital Group Caroline Riady selaku pembicara kunci dalam seminar yang digelar Ikatan Alumni Universitas Pelita Harapan (UPH) bertajuk "Leadership 4.0 Startegy"di Kampus Pascasarjana UPH, Jakarta, Jumat (17/5/2019) malam.

Menurutnya, saat ini terlalu banyak buku dan seminar yang menulis tentang _leadership_ dengan jalan pintas. Bagaimana misalnya menjadi berhasil dan banyak followers-nya.

"Pemimpin sesungguhnya harus didasarkan karakter dan nilai kepemimpinan itu sendiri. Harus punya visi mana yang dituju," katanya.

Wanita yang mengawali kiprahnya sebagai guru ini juga memiliki prinsip bahwa apa yang ada dalam hidup adalah dipinjamkan sehingga kita berhutang.

"Semua yang kita jalani dalam hidup ini hanya pinjaman, sehingga kita berhutang," ungkapnya.

Perlu disadari bahwa suatu hari apa yang dipinjamkan itu lanjutnya, harus dipulangkan. Menyadari hal itu tentu muncul keseriusan untuk memanfaatkan waktu, uang, posisi, menjalin hubungan dengan keluarga kemudian bertanggung jawab. Melalui apa yang dipinjamkan itu, seharusnya manusia menjadi berkat di dalamnya.

"Ini yang harus menjadi dasar leadership. Era 4.0 muncul karena urgensi di dunia, yang demikian cepatnya dengan digital disertai banyak perubahan," paparnya.

Sehingga tambahnya, diperlukan pemimpin yang bisa memimpin organisasi untuk melewati perubahan ini menuju satu visi, tanpa ada jalan pintas.

Ia pun berharap, alumni UPH yang sudah dipersiapkan selama bertahun-tahun dapat masuk ke dunia saat ini dengan berbagai tantangan yang ada dan memimpin organisasi ke tujuan yang lebih baik.

Saat ini jumlah alumni UPH mencapai 30.000 orang yang tentu memiliki potensi besar untuk dapat memberikan dampak signifikan bagi bangsa.

Vice President for Marketing, External Cooperation and Business Development UPH Stephanie Riady juga menitik beratkan pentingnya peran sumber daya manusia (SDM) dalam transformasi digital.

"Semakin banyak teknologi peran pendidikan penting untuk mendidik anak muda memakai teknologi yang baik dan bukan dipakai untuk yang tidak baik," ucapnya.

Menurutnya, SDM penting untuk dididik mempersiapkan masa depan dan menggunakan teknologi dengan baik. Teknologi harusnya jadi tools humanis people.

"Dengan teknologi kita harus berdaulat terhadapnya dan mempermudah aktivitas kita sehingga kita bisa melakukan yang lain," ujarnya.

Dalam seminar itu pun hadir sejumlah pembicara alumni UPH yang telah sukses di berbagai bidang. Para pembicara itu antara lain Chairman of Ikatan Alumni UPH yang juga Founder of Farmindonesia Yongky Angga dan Director of Square Gate One and Espay Joshua Dharmawan. Selain itu ada pula Guru Besar UPH Manlian Simanjuntak sebagai moderator.

Seminar ini juga sekaligus menjadi rangkaian dies natalis UPH ke-25 pada September 2019 mendatang.



Sumber: BeritaSatu.com