BPOM Masih Temukan Takjil Mengandung Formalin dan Boraks

BPOM Masih Temukan Takjil Mengandung Formalin dan Boraks
Kepala BPOM Penny K Lukito
Dina Manafe / EAS Senin, 20 Mei 2019 | 14:15 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Selama bulan puasa dan menjelang Idul Fitri, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) melakukan pengawasan intensif terhadap peredaran pangan di pasaran termasuk jananan berbuka puasa (takjil). Dari 2.804 sampel yang diperiksa oleh BPOM di berbagai kota di Indonesia, ditemukan banyak takjil yang mengandung bahan berbahaya, seperti formalin, boraks, dan rhodamin.

Kepala BPOM, Penny Kusumastuti Lukito, mengatakan, dari 2.804 sampel takjil yang diperiksa oleh petugas BPOM ditemukan 83 sampel atau 2,96% yang tidak memenuhi syarat. Produk ini dikelompokkan menjadi empat kelompok, yaitu kelompok agar-agar, kelompok minuman berwarna, kelompok mi, dan kelompok kudapan.

Temuan bahan berbahaya yang banyak disalahgunakan pada pangan ini, yaitu formalin (39,29%), boraks (32,14%), dan rhodamin B (28,57%).

Menurut Penny, bila dibandingkan dengan data intensifikasi pangan pada 2018 lalu, tahun ini terjadi penurunan persentase produk takjil yang tidak memenuhi syarat. Pada pelaksanaan intensifikasi pengawasan di waktu yang sama di tahun 2018, sampel yang tidak memenuhi syarat sebesar 5,34%.

“Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kesadaran dan pemahaman pedagang takjil yang kebanyakan merupakan ibu rumah tangga terhadap keamanan pangan semakin meningkat,” kata Penny kepada wartawan di Kantor BPOM, Jakarta, Senin (20/5/2019).

Menurut Penny, makin baiknya kesadaran masyarakat terutama pegadang takjil ini tidak terlepas dari upaya BPOM bersama kementerian/lembaga terkait yang gencar melakukan sosialisasi serta komunikasi, informasi, dan edukasi kepada masyarakat dan pelaku usaha.



Sumber: BeritaSatu.com