Polda Jabar Halau Peserta Aksi People Power

Polda Jabar Halau Peserta Aksi People Power
Massa pendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno berunjuk rasa di depan kantor Bawaslu RI untuk menyuarakan kekecewaan mereka hasil Pilpres 2019 yang memenangkan pasangan Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Selasa, 21 Mei 2019. ( Foto: Beritasatu Photo / Carlos Roy Fajarta Barus )
Adi Marsiela / LES Selasa, 21 Mei 2019 | 19:08 WIB

Bandung, Beritasatu.com - Kepolisian Daerah Jawa Barat menghalau beberapa kelompok yang berangkat dari wilayah Jawa Barat ke Jakarta untuk mengikuti aksi people power pasca penetapan hasil pemilihan umum 2019.

Juru bicara Kepolisian Daerah Jawa Barat, Komisaris Besar Trunoyudo Wisnu Andiko mengatakan, polisi sempat menemukan dan menghalau beberapa kendaraan yang bertujuan berangkat ke Jakarta untuk tujuan tersebut.

“Di Sukabumi ada empat orang menggunakan mobil. Di Cirebon ada enam orang, empat di antaranya tanpa identitas, mereka dari Tegal. Kemudian di Sumedang ada juga lima orang. Semuanya diminta kembali ke tempatnya masing-masing,” kata Trunoyudo ketika dihubungi Selasa (21/5/2019).

Polisi, sambung dia, tidak melakukan penahanan karena tidak menemukan adanya pelanggaran pidana saat menggelar razia yang termasuk dalam kegiatan Operasi Mantap Brata Pemilu 2019. Operasi ini bakal berakhir nanti pascapelantikan presiden-wakil presiden terpilih.

Menyoal penetapan status siaga satu yang berlaku untuk seluruh wilayah Indonesia, Trunoyudo memaparkan, pihaknya mengantisipasi berbagai kegiatan menonjol guna memberikan rasa aman pada masyarakat. “Ada 21.000 personil gabungan TNI dan Polri. Mereka disebar ke seluruh polres,” terang Trunoyudo.

Penyebar Hoax
Sebelumnya, Trunoyudo mengungkapkan, pihaknya menangkap salah satu tersangka penyebaran hoax dan ancaman teror terhadap kantor Komisi Pemilihan Umum RI di Jakarta. Pelaku berinisial AS, 54 tahun yang merupakan warga Garut ini diduga menyebarkan hoax lewat aplikasi Whatsapp.

Pelaku menyebarkan konten informasi yang dia dapat dari grup Whatsapp yang dia teruskan menggunakan telepon seluler miliknya. Isi konten itu pada intinya mengajak melakukan pengeboman massal di Jakarta.

“Perang Badar dilakukan ketika Ramadan, mari kita berperang di bulan Ramadhan ini, ingat tanggal 21-22 Mei!!! Catatan: bagi yang ingin membantu jihad kami, dapat datang ke Jalan HOS Cokroaminoto Nomor 91, Menteng, Jakarta untuk mengambil peralatan peledakan (jangan membawa antum)#2019prabowoharuspresiden #kpucurang,".

Menurut Trunoyudo, pelaku sengaja menyebarkan pesan itu guna memberikan rasa takut pada masyarakat. Polisi juga mengamankan lima telepon seluler berbagai merek, serta print out postingan tersangka via akun twitter Nona Cebong Manado.

Pada kasus ini polisi menerapkan pasal dugaan tindak pidana terorisme sebagaimana dimaksud dalam pasal 7 UU RI Nomor 15 Tahun 2003 tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti UU Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme menjadi Pasal 6 UU RI Nomor 5 Tahun 2018 tentang perubahan UU Nomor 15 Tahun 2003.

Selain itu, tersangka juga dijerat Pasal 45a Ayat (2) UU RI Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE dan Pasal 15 UU RI Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana. “Hukuman maksimal 20 tahun penjara terkait menyebar ancaman dan hoax,” terang Trunoyudho.



Sumber: Suara Pembaruan