Pamit Reuni, Abdul Meninggal dalam Unjuk Rasa

Pamit Reuni, Abdul Meninggal dalam Unjuk Rasa
Demonstran terlibat kericuhan saat menggelar Aksi 22 Mei di depan gedung Bawaslu, Jakarta, Rabu (22/5/2019). Aksi unjuk rasa itu dilakukan menyikapi putusan hasil rekapitulasi nasional Pemilu serentak 2019. ( Foto: ANTARA FOTO / Indrianto Eko Suwarso )
Laurens Dami / HA Rabu, 22 Mei 2019 | 22:54 WIB

Pandeglang, Beritasatu.com - Salah satu korban meninggal saat mengikuti aksi unjuk rasa di depan kantor Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) pada Rabu (22/5) dini hari diidentifikasi sebagai Abdul Azis (17), warga Kampung Rocek Barat RT012/Rw004, Desa Rocek, Kecamatan Cimanuk.

Orang tua korban bernama Johani kepada wartawan, Rabu (22/5) menjelaskan anaknya itu memang pamit ketika hendak berangkat ke Jakarta pada Senin (20/5). Korban menyampaikan alasan ke Jakarta hanya untuk bertemu saudaranya dan dilanjutkan reuni bersama temannya.

Johani menuturkan bahwa anaknya itu santri di salah satu pondok pesantren di Kuningan, Jawa Barat.

“Anak saya itu adalah santri di salah satu pondok pesantren di Kuningan, Jawa Barat. Dia nggak pernah ke mana-mana, cuma mondok doang nggak kerja. Cuma dia bilang ke Jakarta mau reunian sama kawan-kawannya,” ujar Johani.

Johani menuturkan, sebelum berangkat ke Jakarta pada Senin (20/5) putranya itu sempat meminta izin dan memohon doa. Namun, dia tidak memberitahukan bahwa bahwa akan ikut aksi unjuk rasa.

“Dia berangkat sendirian pada Senin pukul 09.00 WIB. Kami justru mendapat kabar tentang meninggalnya putra kami itu dari Pak Lurah,” ujarnya.

Pihak keluarga mengatakan hingga saat ini jenazah korban masih berada di Rumah Sakit Kramat Jati Jakarta Timur. Keluarga berharap jenazah korban bisa segera dibawa pulang untuk dimakamkan.

“Kami berharap jenazah putra kami segera dipulangkan supaya bisa dimakamkan,” ujarnya.

Sementara itu, Bupati Pandeglang Irna Narulita mengaku prihatin atas meninggalnya salah satu warga Pandeglang tersebut.

“Saya merasa prihatin dan berduka sangat dalam karena rakyat kami. Semoga keluarga korban diberi ketabahan,” kata Irna.

Terkait penyebab kematian korban, Irna mempercayakan kepada aparat penegak hukum untuk menyelidiki seadil-adilnya.

“Saya juga mengimbau sebelumnya kepada rakyat saya agar tidak perlu ke Jakarta,” kata Irna.

Menurut Irna, KPU dan Bawaslu di daerah bisa dijadikan tempat untuk menyampaikan masukan terkait pelaksanaan pemilu.

Irna menjelaskan, berdasarkan informasi yang diterimanya ada sekitar 200 warga Pandeglang yang ikut berangkat ke Jakarta untuk mengikuti aksi 22 Mei 2019.

“Saya sebenarnya khawatir dan merasa was-was. Khawatir ada yang sakit di perjalanan, khawatir bentrok dan ternyata kekhawatiran itu terbukti. Saya sangat menyayangkan,” kata Irna.

Irna mengaku telah mengutus Camat Cimanuk untuk bertakziah langsung ke rumah duka. “Semoga amal ibadahnya diterima di sisi Allah,” ujar Irna.

Secara terpisah, Kabid Humas Polda Banten AKBD Edy Sumardi ketika ditanya terkait meninggalnya salah satu warga Pandeglang saat ikut aksi di Jakarta 22 Mei, mengatakan Polda Banten masih menyelidiki dan mendalami informasi tersebut.

“Kami masih mendalami informasi tersebut,” ujarnya.



Sumber: Suara Pembaruan