Kasus Ujaran Kebencian, Dosen USU Dihukum Percobaan

Kasus Ujaran Kebencian, Dosen USU Dihukum Percobaan
Himma Dewiyana Lubis, terdakwa kasus ujaran kebencian, divonis hukuman percobaan oleh PN Medan, 23 Mei 2019. ( Foto: Suara Pembaruan / Arnold Sianturi )
Arnold H Sianturi / HA Kamis, 23 Mei 2019 | 17:31 WIB

Medan, Beritasatu.com - Pengadilan Negeri Medan menyatakan Dosen Universitas Sumatera Utara (USU) Himma Dewiyana Lubis (45) terbukti melakukan ujaran kebencian di akun Facebook, setelah menulis bahwa serangan bom di Surabaya tahun lalu adalah sebuah pengalihan isu oleh pemerintah. Dia dijatuhi hukuman 1 tahun penjara dengan 2 tahun masa percobaan dan denda Rp 10 juta subsider 3 bulan kurungan, Kamis (23/5).

Hukuman terhadap Himma dijatuhkan majelis hakim yang diketuai Riana Pohan. Himma terbukti melanggar Pasal 28 ayat (2) jo Pasal 45A ayat (2) UU RI No 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU RI No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

"Menjatuhkan hukuman kepada terdakwa, oleh karena itu dengan pidana penjara selama 1 tahun dengan masa percobaan selama 2 tahun dan denda Rp 10 juta. Apabila denda tidak dibayar, maka diganti dengan 3 bulan kurungan," kata Riana.

Hukuman yang dijatuhkan majelis hakim hampir sama dengan tuntutan. Hanya hakim memutuskan memberi hukuman percobaan kepada dosen Fakultas Ilmu Budaya USU itu. Sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU), Tiorida Juliana Hutagaol juga meminta agar Himma dijatuhi pidana 1 tahun penjara dan denda Rp 10 juta subsider 3 bulan kurungan.

Kuasa hukum terdakwa, Rina Melati Sitompul, mengapresiasi putusan majelis hakim. Meskipun majelis tidak sependapat dengan penasihat hukum soal landasan yuridis.

"Tapi kita sepaham dalam landasan psikologis," ucapnya.

Rina mengatakan, pihaknya masih mempelajari vonis yang dijatuhkan hakim.

"Dengan vonis 2 tahun kita pertimbangkan dulu, kita cooling down dulu. Kita masih pikir-pikir dulu," tegas Rina.

Dalam dakwaan disebutkan, Himma ditangkap setelah menulis kalimat "Skenario pengalihan yang sempurna #2019GantiPresiden" dan "Ini dia pemicunya Sodara, Kitab Al-Quran dibuang" di laman Facebook-nya. Status itu ditulis di rumahnya, di Kompleks Johor Permai, Gedung Johor, Medan Johor, Medan.

Himma membuat status itu karena merasa kesal, jengkel dan sakit hati atas kepemimpinan Presiden Joko Widodo, karena menurutnya harga sembako, tarif listrik, dan semua keperluan/kebutuhan sehari-hari pada naik atau mahal.

Padahal, Himma sebelumnya sangat mengagung-agungkan Jokowi sebelum menjadi Presiden RI. Dia pun menuliskan "Di mana Janji-janji Bapak Jokowi pada saat kampanye pemilihan Presiden RI tahun 2014 sangat mendukung terdakwa dalam kehidupan sehari-hari."

Postingan Himma menjadi viral di media sosial dan akhirnya sampai ke personel Subdit II Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Sumut pada Kamis (17/5/2018). Penyelidikan dilakukan, Himma pun diamankan dan sempat ditahan. Dia kemudian diadili.



Sumber: Suara Pembaruan