Patung Sultan Ageng Diresmikan, Banten Kaya Narasi Sejarah

Patung Sultan Ageng Diresmikan, Banten Kaya Narasi Sejarah
Budayawan Bonnie Triyana (kiri) menjadi pembicara pada peluncuran Sultan Center dan patung Sultan Ageng Tirtayasa di Kelurahan Banjarasari, Cipocok Jaya, Kota Serang, Banten, Rabu 22 Mei 2019. ( Foto: Istimewa )
Asni Ovier / AO Jumat, 24 Mei 2019 | 17:26 WIB

Serang, Beritasatu.com – Kehadiran patung Sultan Ageng Tirtayasa di Serang menunjukkan bahwa Banten memiliki banyak narasi sejarah yang bisa digali menjadi destinasi pengetahuan dan wisata masyarakat. Karena itu, pemerintah bersama-sama masyarakat harus peka dan mau mencari narasi budaya itu.

Hal itu dikatakan sejarawan yang juga budayawan nasional Bonnie Triyana dalam pernyataan yang diterima di Jakarta, Jumat (24/5/2019). “Misalnya, ada narasi Multatuli di Rangkasbitung. Kemudian, di Anyer juga ada sejarah dunia yang bisa dijadikan narasi, yaitu tempat pertama tokoh terkenal Deandles mendarat di Indonesia,” ujar Bonnie yang juga Founder majalah sejarah Historia itu.

Patung Sultan Ageng Tirtayasa yang terletak di Kelurahan Banjarasari, Cipocok Jaya, Kota Serang, Banten, itu diresmikan pada Rabu (22/5/2019). Saat peresmian patung juga digelar diskusi dan peluncuran Sultan Center. Bonnie menjadi salah satu pembicara pada acara itu.

Bonnie yang juga menjadi salah satu kurator museum di Belanda mengatakan, dengan narasi yang terkenal dan mendunia itu bisa menarik orang untuk datang. Sosok Sultan Ageng Tirtayasa, misalnya, bisa dikembangkan karena sangat terkenal di Indonesia.

“Dengan demikian, orang bisa tertarik dan mau berkunjung ke Banten,” ujar Bonnie. Dia lalu mencontohkan Musuem Multatuli yang mendapatkan perhatian luas, bukan hanya di Indonesia, namun juga di masyarakat internasional.

Hal itu terjadi karena narasi tentang Multatuli cukup kuat. Dengan bangunan narasi tersebut akan terbentuk ekosistem budaya yang memiliki dampak ekonomi terhadap warga di sekelilingnya.

Bonnie menambahkan, ribuan benda bersejarah Indonesia yang memiliki narasi itu dijarah oleh Belanda saat mereka menjajah Indonesia “Saat dulu ke Banten. mereka hancurkan, mengambil sesuatu, kemudian pergi ke Aceh, Banjarmasin, dan Lombok. Mereka selalu melakukan ekspedisi militer. Setelah kalah, mereka ambil dan simpan di Belanda. Jumlahnya ribuan,” kata Bonnie.

Dikatakan, saat ini Belanda ingin mengembaliklan benda-benda jarahan kepada Indonesia. “Kedua belah pihak sedang melakukan negosiasi. Pemerintah Indonesia sudah menyampaikan tidak ingin asal dikembalikan, namun harus ada penelitian dan riset-riset sehingga menghasilkan narasi,” katanya.

Budayawan Jodhi Yudhono mengatakan, pendirian patung Sultan Ageng Tirtayasa bisa menggerakkan ruang dan waktu, khususnya masyarakat di sekitarnya. “Ciri orang yang kreatif dan berbudaya adalah karyanya menggerakan ruang dan waktu. Pendirian patung ini, saya yakin bisa menggerakkan ruang dan waktu itu,” kata Jodhi.

Keberadaan patung Sultan Ageng Tirtayasa merupakan inisiatif Aji Bahroji, salah seorang praktisi komunikasi asal Banten. Aji mengatakan, tujuannya mendirikan patung itu untuk mengambil semangat dan kegigihan Sultan Ageng.

“Ini sebenarnya adalah cara kami memupuk rasa semangat dan perjuangan Sultan Ageng dalam membela masyarakat. Mungkin, cara perjuangannya berbeda. Saat ini kita dengan kreativitas dan perusahaan kami juga namanya SultanComm,” jelas Aji.

Dikatakan, semula patung itu berada di tengah-tengah kota. Pada 2003, patung pahlawan nasional tersebut dirobohkan oleh pemerintah daerah. “Setelah hampir 16 tahun kemudian puing -puingnya (tinggal badannya) teronggok dipinggir sungai dan ditemukan oleh wartawan dan teman-teman. Akhirnya, saya putuskan untuk dibawa ke sini,” kata Aji.



Sumber: Suara Pembaruan