BPBD: Banjir Bandang Lebak karena Kerusakan Hutan

BPBD: Banjir Bandang Lebak karena Kerusakan Hutan
Ilustrasi Banjir Bandang. ( Foto: ANTARA OTO/Anis Efizudin )
/ YS Sabtu, 25 Mei 2019 | 22:23 WIB

Lebak - Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak Kaprawi mengatakan, banjir bandang yang menerjang empat kecamatan di daerah itu akibat kerusakan hutan di kawasan hulu sungai.

"Kita menduga penyebab banjir bandang itu karena kerusakan hutan," kata Kaprawi di Lebak, Sabtu (25/5/2019).

Kabupaten Lebak merupakan daerah hulu di Provinsi Banten, sehingga perlu mendapat perhatian untuk pelestarian hutan dan alam agar tidak menimbulkan bencana banjir.

Selama ini, kondisi hutan di daerah hulu sungai di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) mengalami kerusakan akibat adanya aktivitas penebangan pohon maupun pertambangan.

Kerusakan kawasan hulu itu, apabila hujan deras dipastikan air hujan tidak terserap ke dalam tanah, sehingga menggelontor bah air ke sejumlah sungai.

Karena itu, kawasan hutan yang menjadikan hulu air perlu dilakukan penghijauan dengan melaksanakan gerakan penghijauan. Namun, saat itu kewenangan untuk melaksanakan gerakan penghijauan melalui Dinas Kehutanan Provinsi Banten.

"Kami berharap kawasan hutan di daerah hulu sungai dapat dilakukan gerakan penghijauan dengan menanam aneka tanaman guna pelestarian alam," katanya.

Menurut dia, apabila kawasan hutan kondisinya hijau dan lestari maka jika hujan deras dipastikan airnya terserap ke dalam tanah dan tidak menggelontorkan bah ke sejumlah sungai.

Banjir bandang yang terjadi luapan air Sungai Cilaki dan Cibeurih akibat kerusakan hutan di TNGHS. Sebab, kawasan TNGHS merupakan daerah konservasi yang harus hijau dan lestari.

"Kami yakin banjir bandang itu akibat hutan gundul di kawasan TNGHS sebagai daerah hulu sungai," katanya.

Ia mengatakan, banjir bandang yang menerjang empat kecamatan itu ditetapkan status tanggap bencana 14 hari terhitung 22 Mei hingga 14 hari ke depan.

Banjir bandang itu menyebabkan 56 rumah rusak serta hanyut dan sejumlah jembatan putus.

Namun, jumlah kerugian material masih dalam identifikasi di lapangan dengan menghitung berapa banyak dampak kerusakan infrastruktur, fasilitas sosial dan fasilitas umum. Beruntung, bencana banjir bandang tersebut tidak menimbulkan korban jiwa.

"Kami pascabencana itu memprioritaskan kebutuhan logistik guna mengurangi risiko kebencanaan agar tidak menyebabkan korban jiwa maupun kerawanan pangan," katanya.



Sumber: ANTARA