PLTA Batang Toru Tak Timbulkan Kekeringan dan Banjir

PLTA Batang Toru Tak Timbulkan Kekeringan dan Banjir
PLTA Batangtoru mendukung upaya melestarikan keanekaragaman hayati ekosistem Batangtoru ( Foto: istimewa / istimewa )
Nurjoni / DAS Senin, 27 Mei 2019 | 12:01 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - PLTA Batang Toru yang sedang dibangun PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) tidak menimbulkan kekeringan di sekitar daerah aliran sungai (DAS) Batang Toru ataupun banjir di desa hilir seperti dikhawatirkan sejumlah pihak. Operasional PLTA Batang Toru akan memperhatikan kebutuhan air bagi penduduk dan pertanian di sekitar DAS Batang Toru.

PLTA Batang Toru berlokasi di aliran Sungai Batang Toru di kawasan Desa Sipirok dan Marancar, Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatera Utara. Proyek PLTA berada di Areal Penggunaan Lain (APL), bukan di kawasan hutan.

Lokasi proyek berada jauh dari perkampungan dan tidak ada pemindahan penduduk (resettlement). PLTA yang masuk proyek strategis nasional (PSN) ini dirancang untuk melayani beban puncak dengan kapasitas 510 megawatt (MW) yang dihasilkan dari 4 buah turbin (masing-masing 127,5 MW) yang digerakkan dari tenaga air dari kolam harian seluas 66 ha.

Proyek PLTA Batang Toru tidak melakukan penggalian tanah secara besar-besaran karena terowongan yang terdalam dibangun 300 meter di bawah tanah. Pembangunan terowongan tidak memerlukan pembukaan lahan permukaan, sedangkan material galian akan dikumpulkan di spoil banks atau disposal area yang telah disiapkan seluas 185 ha yang lahannya dibeli dari masyarakat setempat. Oleh karena itu, tidak akan menimbun hutan maupun menyebabkan fragmentasi.

Setelah mendapatkan izin APL, pada 2008 perusahaan melakukan studi kelayakan (feasibility study) dan eksplorasi. Kemudian, menentukan titik-titik untuk lokasi bendungan (dam) dan rumah pembangkit (power house), dan sejak tahun 2017 dilakukan pra-konstruksi yang dikerjakan oleh Sinohydro selaku kontraktor. Tahap awal konstruksi di antaranya berupa pembangunan jalan akses proyek, camp pekerja, jembatan, terowongan penghubung jalan, batching plant, stone crusher.

Communication and External Affairs Director PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) Firman Taufick mengatakan, untuk pengaturan aliran air, pihaknya memiliki sistem operasi dengan memperhitungkan minimum debit dan maksimum debit air sungai Batang Toru.

Dia menjelaskan, saat pertama kali pengisian air dam aliran air sungai Batang Toru tidak dihentikan seluruhnya sehingga tidak akan menyebabkan kekeringan di hilir sungai. Air dari dam kemudian dialirkan ke terowongan (tunnel) yang dibangun NSHE untuk menggerakkan turbin pembangkit.

“Saat kita bendung tidak akan ada juga rumah penduduk yang terendam di genangan tersebut karena lokasi bendungan berada di hulu sungai yang tidak ada penduduk,” ujar Firman saat media trip di proyek PLTA Batang Toru, Kecamatan Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, belum lama ini.

Penampungan air di dam ini tidak akan menyebabkan sungai kekeringan. Sebab, PLTA memiliki batas debit yakni sebesar 45 meter kubik per detik (m3/detik). Apabila masuk hari kering atau di bawah debit 45 meter kubik, maka air akan dialirkan semua. Selain itu, sungai terdampak, yakni Sungai Batang Toru, akan mendapat aliran air dari DAM ditambah anak-anak sungai.

Senior Advisor Lingkungan PT NSHE Agus Djoko Ismanto menambahkan, PLTA Batang Toru tidak akan menenggelamkan rumah penduduk di sekitar proyek karena genangan air hanya 66 ha yang merupakan lereng terjal yang tidak ada penduduk.

Sebagai perbandingan, lanjut dia, PLTA Jatiluhur membutuhkan luas genangan 8.300 ha dan menghasilkan 187 megawatt (MW). Sedangkan PLTA Batang Toru membutuhkan 66 ha dan menghasilkan 510 MW.

Adji menjelaskan, lokasi dam berada di antara dua tebing terjal yang berbentuk huruf V. Karena itu, konstruksi dam dibangun berbentuk tapal kuda agar tekanan air bisa disebar ke dinding-dinding tebing yang ketinggiannya 200-300 meter.

Saat pembangunan bendungan, lanjut Adji, perusahaan akan membangun terowongan diversi (diversion tunnel) yang berfungsi mengalihkan aliran air sungai di dekat proyek bendungan.

Pihak NSHE juga membangun jalan sepanjang 13 kilometer mulai dari dam ke powerhouse yang digunakan sebagai jalan inspeksi untuk memudahkan aktivitas pekerja saat PLTA beroperasi. Tentunya, jalan tersebut tertutup untuk warga dan dijaga sekuriti.

Irit Lahan

PLTA ini dibangun dengan konsep irit lahan. NSHE mengantongi izin seluas 6.598 ha untuk eksplorasi, survei, dan perencanaan. Namun dari luas itu hanya 669 ha yang digunakan untuk proyek PLTA. Sedangkan dari total 669 ha itu pun hanya 122 ha, atau 0,07% dari total luas ekosistem Batang Toru yang mencapai 163.000 ha, yang akan didirikan tapak struktur permanen yakni luas bangunan 56 ha dan luasan genangan maksimal 66 ha.

Menurut Adji, sedikitnya lahan yang dibutuhkan untuk PLTA Batang Toru karena didukung dua variabel utama, yakni debit air dan perbedaan tinggi antara bendungan dan pembangkit sehingga aliran airnya deras untuk mendapatkan energi besar menggerakkan turbin.

“Ketinggian antara dam dan pembangkit mencapai 278 meter. Jadi, imajinasi bahwa semua akan tenggelam itu tidak benar. Kalau dibandingkan dengan PLTA Jatiluhur maka PLTA Batang Toru hanya ekornya saja,” ujar Adji.

Adji juga menerangkan, lahan seluas 669 ha itu dibeli dari warga yang ada di 12 desa di tiga kecamatan, yakni Batang Toru, Sipirok, dan Marancar. Tanah seluas 669 ha itu dibeli NSHE dari masyarakat di lahan APL, bukan lahan yang dikuasai negara seperti hutan lindung, hutan konservasi, suaka alam ataupun cagar alam.

“Pada saat kami membeli lahan warga belum ada infrastruktur, areal pertanian pun sangat sedikit, hanya lereng-lereng terjal. Dari lahan 669 ha yang telah dibeli, lebih dari 400 ha akan kami tanami kembali,” jelas Adji.

Pembebasan lahan telah dilakukan pada 2016-2017. Warga yang terkena dampak langsung pembangunan proyek, telah diberikan ganti rugi dengan harga yang sesuai.



Sumber: Investor Daily