PLTA Batang Toru Bukan Waduk Raksasa

PLTA Batang Toru Bukan Waduk Raksasa
ilustrasi ( Foto: istimewa / istimewa )
Nurjoni / DAS Senin, 27 Mei 2019 | 12:30 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - PLTA Batang Toru tidak memiliki waduk raksasa (giant dam), sehingga tidak menyimpan air dalam jumlah banyak. PLTA ini adalah tipe run off river, pembangkit yang dibangun di atas air yang mengalir sepanjang hari. Karena itu, NSHE sebagai pengelola PLTA tidak membangun waduk sebagai reservoir seperti umumnya bangunan PLTA. Operasional PLTA tergantung air yang mengalir.

Operasional PLTA tipe run off river yakni mengikuti debit aliran air yang disuplai dari daerah hulunya dan mengutamakan keteraturan suplai air (water regulation) dari alam. Oleh sebab itu, cadangan airnya bukan disimpan di reservoir melainkan disimpan secara alamiah di hutan-hutan yang berada di bagian hulu sungai dari DAS Batang Toru.

“PLTA Batang Toru beroperasi 24 jam. Sehingga aliran air jalan terus, tidak ada penutupan sungai. Air yang mengalir ke hilir kurang lebih sama dengan yang datang dari hulu. Istilahnya air itu dipinjamkan untuk menggerakkan turbin,” kata Senior Advisor Lingkungan PT NSHE, Agus Djoko Ismanto, belum lama ini.

Total air yang akan disimpan saat pertama kali beroperasi adalah 15 juta meter kubik (m3) di dam yang akan dibangun pada lereng sempit yang menuju hilir sungai. Sebanyak 15 juta m3 tersebut diperlukan untuk menaikkan ketinggian air di kolam harian (daily pond), sehingga curahannya memenuhi kebutuhan untuk menggerakkan turbin.

Dia mengilustrasikan, volume air 15 juta m3 jauh lebih rendah dari waduk Jatiluhur yang menyimpan 2,5 miliar kubik.
“Jadi tidak benar akan ada banjir selama 6 jam dan kekeringan selama 18 jam,” ujar dia.

Di hilir sungai memang terdapat empat desa yang sering mengalami banjir hingga empat kali dalam setahun. Biasanya, banjir terjadi saat debit air mencapai 325 m3/detik. Sementara itu, dalam operasi maksimum, PLTA memiliki kapasitas kurang dari 200 m3/detik.

"Jadi, kalaupun terjadi banjir, itu bukan karena PLTA. Walaupun debit di sungai Batang Toru kecil, di bawah (hilir) bisa banjir karena luapan anak-anak sungai, salah satunya sungai Parsariran," jelas dia.

Saat kondisi normal debit air sungai Batang Toru rata-rata mencapai 45-207 meter kubik (m3) per detik, namun saat musim kemarau debitnya akan kurang dari 45 m3/detik dan bisa di atas 207 m3/detik pada musim hujan.

“Pada saat debit air di bawah 45 m3/detik maka PLTA hanya mengandalkan air yang mengalir di sungai Batang Toru, dan masih bisa mengoperasikan 1-3 turbin dari total 4 turbin. Sementara NSHE menetapkan peta operasi harian dengan debit 155 m3/detik,” kata dia.

Sebagai ilustrasi, dari 4 turbin yang digunakan saat kondisi normal masing-masing memutar kira-kira 51,75 m3/detik jadi totalnya 207 m3/detik. Saat debit puncak, misalnya 500 m3/detik, maka 207 m3/detik lewat turbin dan 300 m3/detik lewat sungai.

Sedangkan kalau debit yang diterima di bawah 200 m3/detik, maka yang bergerak hanya 3 turbin. Jadi, powerhouse ini dapat diatur, apakah akan menggunakan satu, dua, atau empat turbin selama 24 jam.

PLTA Batang Toru merupakan proyek independent power producer (IPP) yang dibangun oleh PT NSHE.
Penandatanganan power purchase agreement (PPA) antara PT NSHE dan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) telah dilakukan pada 21 Desember 2015. PLTA Batang Toru diharapkan akan beroperasi pada 2022 dan akan mensuplai energi listrik sebesar 2,124 GWh/tahun yang berkontribusi terhadap 15% kebutuhan beban puncak Sumatera Utara pada saat beroperasi.



Sumber: Investor Daily